Bankaltimtara

Bubur Peca "Obat panjang Umur" Jadi Magnet Warga hingga Luar Kota

Bubur Peca

Bubur Peca yang disajikan kepada para jamaah Masjid Shiratal Mustaqiem, dianggap tradisi selama 100 Tahun di Samarinda yang hanya hadir saat Ramadan -Mayang Sari -

SAMARINDA, NOMORSATUKALTIM - Di tepian Sungai Mahakam, sebuah tradisi kuliner Ramadan tetap bertahan di tengah perubahan zaman.

Setiap bulan puasa, dapur di kawasan Masjid tertua di Samarinda kembali mengepul.

Menandai dimulainya ritual memasak bubur peca yang telah diwariskan lintas generasi.

Bubur khas ini hanya dapat ditemui di Masjid Shiratal Mustaqiem, Jalan Pangeran Bendahara, Samarinda Seberang, Kota Samarinda.

BACA JUGA: Resmi! Ini Jadwal Sekolah Ramadan 2026 di Balikpapan dan Libur Idulfitri

Ia tidak dijual bebas dan tidak pula dimasak di luar bulan Ramadan. Tradisi ini dipercaya telah berlangsung lebih dari satu abad, dan tetap bertahan hingga kini.

Di balik rutinitas tersebut, Sosok Mardiana (62), perempuan yang telah lebih dari dua dekade menjadi peracik utama bubur peca. Ia bukan sekadar juru masak, melainkan penjaga warisan keluarga. 

"Semenjak Masjid Shirathal Mustaqiem ini dibangun 1881, sudah ada bubur peca ini, dari nenek moyang kita sampai sekarang. Bubur peca ini sebagai makanan orang Bugis yang diadakan setahun sekali pas bulan puasa,"ungkap Mardiana, Jumat (20/2/2026). 

Kata 'Peca' sendiri berasal dari bahasa Bugis yang artinya bubur lembek, yang dimasak selama 5 jam, kemudian diaduk perlahan, secara terus-menerus dalam panci besar berisikan air mendidih.

BACA JUGA: Perputaran Uang di Festival Ramadan Tenggarong Diprediksi Mencapai Ratusan Juta Rupiah

Mardiana mengaku, Resep yang digunakan tak pernah ditulis. Selama tiga generasi ini, Semua dihafal, dirasa, dan diwariskan dari neneknya, lalu ke ibunya, hingga kini berada di tangannya.

"Dari nenek, turun ke mamak. Setelah mamak meninggal, saya yang lanjutkan," ujarnya.

Aktivitas dapur pun dimulai sejak pukul 07.30 Wita setiap hari selama Ramadan. Prosesnya tidak bisa tergesa.

Air harus benar-benar mendidih sebelum beras dimasukkan agar tekstur bubur sesuai pakem lama. Jika tidak, menurutnya, hasilnya akan berbeda. 

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: