Bankaltimtara

Tarif Parkir Langganan Samarinda Murah Tapi Sepi Peminat, Kenapa?

Tarif Parkir Langganan Samarinda Murah Tapi Sepi Peminat, Kenapa?

Suasana kantong parkir di Jalan Abul Hasan, Kota Samarinda.-(Disway Kaltim/ Ari Rachiem)-

BACA JUGA: Tahap Awal Penerapan Parkir Berlangganan, Dishub Samarinda Sasar ASN Dulu

“Kadang kami juga tidak tahu mana juru parkir resmi dan mana yang tidak. Kalau program ini dijalankan, menurut saya harus ada kepastian di lapangan supaya masyarakat tidak bingung,” tambahnya.

Pandangan berbeda disampaikan M Varrel (25), warga Jalan Basuki Rahmat yang bekerja sebagai freelance digital marketing. 

Ia menilai tarif parkir berlangganan yang ditawarkan pemerintah sangat ekonomis dibandingkan biaya parkir harian yang harus dikeluarkan selama bekerja berpindah-pindah lokasi.

“Menurut saya ini sangat murah. Kalau dihitung per hari, biayanya kecil sekali dibandingkan uang parkir yang biasanya keluar setiap kali berpindah tempat bekerja,” ucapnya.

BACA JUGA: Parkir Langganan Samarinda: Rp1.077 untuk Motor dan Rp2.700 untuk Mobil

Varrel mengaku kerap bekerja dari berbagai kedai kopi di Samarinda. Karena itu, biaya parkir menjadi salah satu pengeluaran rutin yang selalu muncul setiap bulan.

“Sebagai pekerja freelance yang sering bekerja dari coffee shop, program ini tentu cukup membantu mengurangi pengeluaran harian. Apalagi kalau memang bisa digunakan di banyak titik parkir yang dikelola pemerintah,” tuturnya.

Ia berharap penerapan parkir berlangganan juga diikuti dengan penataan sistem parkir yang lebih tertib dan transparan.

“Kalau tidak ada karcis resmi biasanya saya mempertanyakan juga. Karena itu saya berharap sistem parkir berlangganan bisa membuat pengelolaan parkir lebih tertata,” jelasnya.

BACA JUGA: Jukir Liar Kuasai Parkir Pasar Segiri, Dishub Siapkan Pihak Ketiga Sebagai Pengelola

Sementara itu, tidak semua warga merasa program tersebut sesuai dengan kebutuhannya. 

Arif Billah, warga Samarinda Seberang yang bekerja sebagai operator crane di sektor lepas pantai, menilai sistem parkir berlangganan kurang relevan bagi masyarakat yang jarang beraktivitas di dalam kota.

“Saya lebih banyak bekerja di laut dan hanya beberapa hari saja berada di Samarinda dalam satu bulan. Jadi kalau harus membayar langganan setahun penuh, rasanya kurang sesuai dengan kebutuhan saya,” ungkapnya.

Menurut Arif, parkir berlangganan lebih cocok bagi pekerja dengan mobilitas tinggi yang setiap hari menggunakan kendaraan di Samarinda.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait