Bontang Belajar dari Dumai
Michael Fredy Yacob.--
Namun, setelahnya, pemerintah Dumai mencoba bertransformasi sektoral. Mereka melirik industri turunan kelapa sawit. Mereka tidak mau terus-terusan bergantung pada industri migas. Berpindah pada sektor Crude Palm Oil (CPO) dan turunan sawit.
Terbukti, pada 2012, kinerja ekonomi kota tersebut tumbuh kuat. Yakni 10,30 persen. Pembangunan infrastruktur pelabuhan dan kawasan industri mendorong peningkatan nilai tambah (value added).
Bahkan, di 2024, pertumbuhan ekonomi di sana tercatat menyentuh angka 5,02 persen. Di tahun tersebut, Pendapatan Asli Daerah (PAD) Dumai menyentuh angka Rp 1 triliun.
Kondisi itu didorong oleh sektor industri pengolahan, perdagangan dan jasa pelabuhan. APBD tahun tersebut pun mencapai Rp 2,3 triliun lebih.
Di usia yang relatif sama dengan Bontang, saat ini Dumai sudah menjadi pusat pengolahan sawit utama di Riau. Kota itu juga menjadi kota pelabuhan internasional dan salah satu pintu masuk perdagangan Riau. Alhasil, saat ini Dumai berkembang sebagai pusat logistik.
Sementara, di Kota Taman sendiri, baru tahun lalu pemerintah setempat di bawah kepemimpinan Neni Moerniaeni dan Agus Haris baru fokus untuk mengembangkan pelabuhan. Termasuk membangun pelabuhan peti kemas.
Itu juga dengan lokasi yang sangat terbatas. Di sisi lain, pemkot Bontang baru akan mengembangkan wilayah industri
Daerah itu yang nantinya akan menjadi sentra industri. Daerah itu pun terus ditawarkan kepada para investor.
Dalam setiap kesempatan, Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni selalu menyebutkan daerah industri di Bontang Lestari itu menjadi salah satu cara pemkot Bontang untuk tidak terlalu bergantung pada industri gas dan pupuk.
Dalam waktu beberapa tahun kedepan, pabrik soda Ash akan berdiri di kota tersebut. Pabrik itu merupakan Proyek Strategis Nasional (PSN) dengan nilai investasi sekitar Rp 5 triliun. Di bangun di area lokasi PT Pupuk Kaltim.
Pabrik tersebut nantinya akan memproduksi soda ash dan amonium klorida. Dengan adanya pabrik itu, akan memperkuat Bontang sebagai pusat industri kimia hijau nasional. Di sisi lain, ada wacana akan dibangun pabrik bahan alat peledak untuk memproduksi amonium nitrat.
Nantinya, dengan hadirnya pabrik soda Ash ini, akan memenuhi kebutuhan soda ash nasional yang selama ini bergantung pada impor. Serta dapat mengurangi ketergantungan, dan memanfaatkan produk sampingan (amonium klorida) untuk pupuk.
Dengan investasi sebesar Rp 5 triliun ini, target produksi 300 ribu metrik ton soda ash per tahun. Serta 300 ribu metrik ton amonium klorida/tahun. Di sektor lain, untuk mengurangi ketergantungan terhadap gas dan pupuk, pemkot Bontang juga mulai aktif memasarkan pariwisata.
Memang, beberapa sektor pariwisata selama ini tidak pernah menyumbang terhadap PAD Bontang. Tidak ada pungutan retribusi dari pariwisata. Padahal, kota ini sangat terkenal dengan wisata pulau Beras Basah.
Bahkan, beberapa komunitas selam juga sering menyelam di perairan Bontang. Mereka selalu menyebut bahwa pemandangan bawah laut di kota ini sangat indah. Tak kalah dengan daerah lain.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

