Bankaltimtara

Lebih dari 200 Demonstran Antikorupsi Ditangkap di Manila

Lebih dari 200 Demonstran Antikorupsi Ditangkap di Manila

Polisi bentrok dengan para demonstran saat mereka mencoba memasuki kompleks Istana Kepresidenan Malacanang di Manila, Filipina, pada 21 September 2025.-AP Photo-

SAMARINDA, NOMORSATUKALTIM - Aksi protes besar-besaran di ibu kota Filipina berujung ricuh. Ribuan orang turun ke jalan pada Minggu (21/9/2025) untuk menuntut keadilan atas dugaan skandal korupsi proyek pengendalian banjir fiktif yang ditaksir menelan biaya miliaran dolar dari uang negara.

Massa awalnya berkumpul secara damai di kawasan taman bersejarah dan monumen demokrasi Manila.

Namun, situasi berubah tegang ketika sekelompok demonstran bertopeng bentrok dengan aparat di sekitar Jembatan Ayala dan kawasan Mendiola.

BACA JUGA:Hamas Siarkan Foto 47 Tawanan Gara-gara Sikap Netanyahu

Polisi menyebut kericuhan itu berlangsung brutal tanpa pemicu yang jelas.

Dalam bentrokan tersebut, massa melempari aparat dengan batu, membakar sepeda motor, hingga merusak sejumlah fasilitas umum dan tempat usaha.

BACA JUGA:Ledakan Dekat Masjid Nabawi Gegerkan Madinah, Jamaah Hentikan Sementara Kegiatan Beribadah

Kepolisian Filipina mencatat sedikitnya 224 orang ditangkap, termasuk beberapa anak di bawah umur. Sementara itu, 131 petugas polisi terluka, sebagian dalam kondisi serius.

“Kami masih menyelidiki apakah mereka benar-benar bagian dari aksi protes atau hanya kelompok yang sengaja membuat kerusuhan,” ujar Mayor Hazel Asilo, juru bicara kepolisian regional, dikutip Aljazeera.

Meski Senin 22 September 2025 pagi kondisi kota mulai berangsur normal, aparat tetap berjaga ketat di sejumlah titik.

BACA JUGA:Jutaan Warga Palestina Memilih Bertahan di Kota Gaza, Tentara Cadangan Israel Tolak Dipanggil Tugas Perang

Sekolah-sekolah ditutup, jam malam untuk remaja diberlakukan, dan protes susulan diperkirakan masih akan terjadi dalam beberapa hari ke depan.

Kemarahan publik Filipina memuncak sejak Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr, dalam pidato kenegaraan Juli lalu mengungkap adanya proyek infrastruktur fiktif yang diduga kuat sarat korupsi. 

Menurut Kementerian Keuangan Filipina, praktik korupsi dalam proyek tersebut diperkirakan membuat negara kehilangan hingga 118,5 miliar peso atau sekitar Rp34 triliun dalam kurun 2023–2025.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait