BACA JUGA:Bukan Sekadar Bumbu Dapur, Penelitian Ungkap Manfaat Jahe untuk Penderita Diabetes Tipe 2
3. Daging Olahan
Sosis, bacon, ham, dan hot dog termasuk daging olahan yang diproses melalui penggaraman, pengasapan, pengawetan, atau penambahan bahan tertentu.
Produk-produk tersebut dapat mengandung natrium tinggi dan, pada beberapa jenis, lemak jenuh dalam jumlah cukup besar.
Sejumlah penelitian mengaitkan konsumsi daging olahan dengan peningkatan risiko penyakit kronis. Namun, hubungan tersebut tidak berarti setiap produk pasti memicu peradangan pada semua orang.
Untuk menjaga pola makan tetap seimbang, sumber protein seperti ikan, ayam segar, telur, tahu, tempe, dan kacang-kacangan bisa lebih sering dipilih.
BACA JUGA:9 dari 10 Pengidap Depresi di Indonesia Belum Mendapat Perawatan Medis
Daging olahan tetap dapat dikonsumsi sesekali, tetapi sebaiknya tidak menjadi lauk utama setiap hari.
4. Makanan dengan Pemanis Buatan
Aspartam dan sukralosa merupakan contoh pemanis buatan yang digunakan dalam sejumlah makanan dan minuman rendah gula atau bebas gula.
Beberapa penelitian menelaah kemungkinan pengaruh pemanis tertentu terhadap mikrobiota usus dan metabolisme, tetapi dampaknya dapat berbeda berdasarkan jenis pemanis, jumlah konsumsi, dan kondisi individu.
Karena itu, makanan berlabel bebas gula tidak otomatis lebih sehat. Kandungan kalori, lemak, natrium, dan komposisi bahan lainnya tetap perlu diperhatikan.
Salah satu cara mengurangi konsumsi makanan terlalu manis adalah membiasakan lidah secara bertahap dengan rasa manis yang lebih ringan. Buah utuh juga dapat menjadi pilihan karena mengandung gula alami sekaligus serat dan berbagai nutrisi.
5. Produk Susu
Susu, keju, dan produk olahan susu merupakan sumber protein dan kalsium. Namun, pada orang yang mengalami intoleransi laktosa, konsumsi produk tertentu dapat menimbulkan kembung, gas, dan gangguan pencernaan. Sementara itu, alergi protein susu dapat memicu respons imun yang berbeda dari intoleransi laktosa.
Keluhan tersebut bisa membuat perut terasa penuh atau membesar, tetapi tidak selalu menandakan penumpukan lemak perut. Produk susu juga tidak secara umum menyebabkan peradangan pada semua orang.