Baca Juga: Hantu Bantal dari Disway Family Constitution Workshop
Dari Nepal kita belajar
Kerusuhan Nepal memberi sebuah pelajaran yang sangat sederhana tetapi mahal: Sebuah masyarakat dapat kehilangan kedamaian bukan karena terlalu banyak agama, tetapi karena terlalu sedikit toleransi.
Masalahnya bukan banyaknya keyakinan. Masalahnya adalah ketika manusia tidak mampu menerima kenyataan bahwa orang lain mempunyai jalan keyakinan yang berbeda.
Karena itu, tragedi Nepal semestinya tidak hanya dilihat sebagai persoalan Hindu versus Muslim. Ia adalah persoalan manusia melawan kesombongan identitas. Ia adalah persoalan masyarakat yang kehilangan nilai bersama.
Ia adalah persoalan ketika simbol agama lebih cepat menyulut emosi daripada nilai agama menumbuhkan kebijaksanaan.
Dan lebih jauh lagi, ia adalah peringatan bagi kita semua: Jangan sampai agama yang seharusnya menjadi jalan menuju Tuhan justru menjadi jalan menuju kebencian kepada sesama manusia.
Bagi Indonesia, Pancasila telah menyediakan rumah bersama.
Al-Qur'an telah memberikan prinsip: Lakum dīnukum wa liya dīn.
Untukmu agamamu, untukku agamaku.
Bukan berarti kita harus hidup tanpa peduli kepada orang lain. Justru sebaliknya.
Kita menghormati orang lain karena kita sadar bahwa kehidupan bersama membutuhkan ruang bagi perbedaan.
Aku boleh yakin bahwa agamaku benar. Tetapi keyakinanku tidak memberiku hak untuk mencabut hak orang lain.
Aku boleh teguh dalam iman. Tetapi keteguhan iman tidak mengharuskanku membenci tetangga.
Dan mungkin di situlah inti peradaban: Bukan ketika semua manusia mempunyai keyakinan yang sama, melainkan ketika manusia yang berbeda keyakinan masih mampu duduk bersama, makan bersama, bekerja bersama, saling menolong, dan pulang ke rumah masing-masing tanpa rasa takut.
Sebab pada akhirnya, yang diuji bukan hanya seberapa kuat seseorang memegang agamanya.
Yang diuji adalah: seberapa mampu agama itu membuatnya tetap menjadi manusia. (*)