Ketika Manusia Membela Tuhan

Minggu 20-09-2026,21:04 WIB
Oleh:

Jangan sampai Indonesia belajar dari api.

Melihat Nepal, Indonesia sebenarnya sedang melihat dirinya sendiri dari kejauhan. 
Kita mempunyai masyarakat yang sangat majemuk. Agama, suku, bahasa, adat dan tradisi hidup berdampingan. 

Dalam keadaan seperti itu, yang kita perlukan bukan masyarakat yang semuanya berpikir sama. 

Kita justru membutuhkan masyarakat yang mampu berbeda tanpa saling membenci. 
Sebab kerukunan tidak pernah berarti tidak adanya perbedaan. Kerukunan berarti perbedaan tidak berubah menjadi permusuhan. 

Inilah pekerjaan rumah yang tidak pernah selesai. 

Apalagi di zaman media sosial, sebuah video pendek dapat menjadi bensin bagi konflik. Sebuah potongan suara dapat dipisahkan dari konteks. 

Sebuah simbol dapat diberi tafsir provokatif. Sebuah kabar bohong dapat berlari lebih cepat daripada klarifikasi. Maka, selain toleransi, kita membutuhkan kedewasaan komunikasi. 

Jangan setiap perbedaan segera diberi label ancaman. Jangan setiap simbol agama dianggap sebagai provokasi. Jangan setiap kesalahan individu digeneralisasikan menjadi kesalahan seluruh kelompok. 

Dan jangan menjadikan agama sebagai kendaraan untuk membawa kebencian politik. Sebab ketika kebencian sudah memakai pakaian agama, ia menjadi jauh lebih sulit dihentikan. 

Tuhan tidak membutuhkan massa untuk membela-Nya  

Ada satu pertanyaan filosofis yang layak diajukan: Benarkah Tuhan membutuhkan kita untuk membela-Nya dengan membakar rumah ibadah orang lain?

Jika Tuhan Mahakuasa, mengapa why manusia harus menjadi satpam Tuhan dengan batu, kayu, api dan senjata? 

Bukankah yang sebenarnya perlu dibela adalah manusia? 

Rumah ibadah perlu dijaga karena di dalamnya manusia mencari Tuhan. Orang perlu dilindungi karena ia adalah manusia. Keyakinan perlu dihormati karena ia bersemayam dalam kesadaran manusia. 

Al-Qur'an juga mengingatkan manusia bahwa keberagaman bangsa dan suku merupakan bagian dari kehendak Tuhan agar manusia “saling mengenal” (li-ta‘ārafū), sebagaimana QS. Al-Hujurat ayat 13. 

Kemuliaan manusia tidak ditentukan oleh suku atau kelompoknya, melainkan oleh ketakwaannya. Kalau demikian, keberagaman bukan kesalahan Tuhan. Yang sering menjadi kesalahan adalah cara manusia membaca keberagaman. 

Kategori :