Secara keseluruhan, kata Purbaya, realisasi belanja negara hingga akhir triwulan II 2026 mencapai Rp1.656,0 triliun, atau tumbuh 17,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year on year/yoy).
Sementara itu, realisasi Belanja Pemerintah Pusat (BPP) tercatat sebesar Rp1.298,6 triliun, meningkat 29,4 persen secara tahunan.
Peningkatan belanja tersebut didorong oleh pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis, penyaluran bantuan sosial, pembangunan infrastruktur, pembayaran tunjangan hari raya (THR) dan gaji ke-13, pembayaran manfaat pensiun, hingga penyaluran subsidi serta kompensasi BBM dan listrik.
Dari sisi penerimaan, pendapatan negara hingga akhir triwulan II 2026 mencapai Rp1.459,4 triliun, atau tumbuh 21,4 persen secara tahunan.
BACA JUGA: Kemendagri: Pemerintah Pusat Masih Tunggak DBH Rp70,2 Triliun ke 413 Daerah
Penerimaan perpajakan memberikan kontribusi terbesar dengan realisasi Rp1.035,7 triliun, meningkat 24,6 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Sementara itu, penerimaan dari kepabeanan dan cukai terealisasi Rp152,0 triliun atau tumbuh 3,4 persen secara tahunan.
Di sisi lain, penerimaan negara bukan pajak (PNBP) juga mencatatkan kinerja positif. Hingga akhir triwulan II 2026, realisasinya mencapai Rp271,0 triliun, atau meningkat 21,6 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Adapun realisasi pembiayaan anggaran mencapai Rp452,0 triliun atau tumbuh 59,4 persen secara tahunan.
BACA JUGA: Kepala Daerah se-Kaltim Sepakat Temui Kemenkeu, Gubernur Rudy Ungkap Sinyal Tambahan TKD
Pemerintah menyebut capaian tersebut didukung oleh pengelolaan pembiayaan utang yang dilakukan secara prudent dan terukur, dengan tetap mempertimbangkan likuiditas pemerintah, kondisi kas negara, serta dinamika pasar keuangan.