Bankaltimtara

Studi Ungkap Konsumsi Gula Sejak Dini Berisiko Pengaruhi Kesehatan Mental, Benarkah Begitu?

Studi Ungkap Konsumsi Gula Sejak Dini Berisiko Pengaruhi Kesehatan Mental, Benarkah Begitu?

Studi Ungkap Konsumsi Gula Sejak Dini Berisiko Pengaruhi Kesehatan Mental, Benarkah Begitu?-istimewa-

NOMORSATUKALTIM – Paparan makanan tinggi gula sejak masa awal kehidupan berpotensi berkaitan dengan kesehatan mental saat dewasa.

Penelitian dari University of Surrey menemukan hubungan antara paparan gula pada 1.000 hari pertama kehidupan dan meningkatnya risiko mengalami kecemasan di kemudian hari.

Studi tersebut menganalisis data medis lebih dari 45.000 peserta UK Biobank. Para peneliti menelusuri hubungan antara paparan gula sejak dalam kandungan hingga dua tahun pertama kehidupan dengan kondisi kesehatan mental peserta ketika dewasa.

Penulis utama studi, Dr. Hana Navratilova, mengatakan penelitian itu dilakukan untuk melihat apakah konsumsi gula pada masa awal kehidupan dapat berkontribusi terhadap munculnya gangguan kesehatan mental seperti depresi dan kecemasan.

“Kami secara khusus tertarik untuk memahami apakah konsumsi gula pada masa awal kehidupan dapat berkontribusi terhadap munculnya masalah kesehatan mental seperti depresi dan kecemasan di kemudian hari,” kata Navratilova, dikutip dari Antara pada Minggu (4/10/2026).

BACA JUGA:Anak Mendadak Demam Tinggi dan Lemas, Kata Dokter Ini Itu Bisa Jadi Gejala Influenza A

Selain kaitannya dengan kecemasan, para peneliti menemukan bahwa asupan gula pada periode awal kehidupan berhubungan dengan perkembangan pada sejumlah bagian otak. Dari 80 wilayah otak yang diteliti, terdapat 11 wilayah yang menunjukkan dampak signifikan.

Dalam penelitian tersebut, peserta dikelompokkan berdasarkan periode pembatasan konsumsi gula yang mereka alami.

Periode tersebut mencakup sejak dalam kandungan hingga usia enam, 12, 18, dan 24 bulan, serta kelompok yang hanya mengalami pembatasan gula selama berada di dalam kandungan.

Hasil penelitian menunjukkan risiko kecemasan paling rendah ditemukan pada kelompok yang memiliki paparan gula lebih terbatas sejak dalam kandungan hingga dua tahun pertama kehidupan.

BACA JUGA:Di Balik Manisnya Minuman Kekinian, Pakar Ingatkan Bahaya Gula dan Kafein Berlebih

Sementara itu, perempuan yang tidak mengalami pembatasan konsumsi gula pada masa awal kehidupan tercatat memiliki kemungkinan lebih tinggi mengalami kecemasan ketika dewasa.

Paparan gula pada masa awal kehidupan juga dikaitkan dengan preferensi makanan ketika seseorang beranjak dewasa.

Peserta yang mengalami pembatasan gula paling lama, yakni sejak dalam kandungan hingga usia 24 bulan, melaporkan kecenderungan lebih rendah menyukai makanan manis saat dewasa.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait