Memasuki akhir Juli hingga Agustus, BPBD akan meningkatkan pemantauan perkembangan cuaca. Periode tersebut, diperkirakan menjadi fase penting untuk melihat apakah musim kemarau mulai mencapai puncaknya atau masih dipengaruhi hujan.
"Kami perkirakan dari akhir Juli sampai Agustus nanti akan terus kita pantau perkembangannya," ujar Buyung.
Ia mengingatkan, setiap pergantian musim selalu membawa karakteristik bencana yang berbeda di Kaltim. Saat musim penghujan, ancaman utama berasal dari banjir dan tanah longsor. Sementara ketika memasuki musim kemarau, potensi yang perlu diwaspadai adalah kekeringan dan kebakaran hutan serta lahan.
Karena itu, BPBD Kaltim terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah kabupaten dan kota untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi Karhutla.
Upaya tersebut meliputi pemantauan titik panas, kesiapan personel di lapangan, hingga penyebaran informasi kepada masyarakat mengenai langkah-langkah pencegahan.
BACA JUGA: Kutim Siaga El Nino 2026-2027, Bupati Terbitkan Surat Edaran Cegah Karhutla dan Krisis Air Bersih
Masyarakat juga diimbau tidak membuka lahan dengan cara membakar serta segera melaporkan apabila menemukan titik api agar penanganan dapat dilakukan sejak dini sebelum kebakaran meluas.
Menurut Buyung, kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, relawan, dan masyarakat menjadi faktor penting dalam menekan risiko Karhutla.
Dengan kondisi cuaca yang masih dinamis, kewaspadaan seluruh pihak dinilai perlu terus ditingkatkan agar kebakaran tidak berkembang menjadi bencana yang lebih besar ketika musim kemarau mencapai puncaknya.(*)