Ini 4 Daerah Paling Rawan Ancaman Karhutla Versi BPBD Kaltim
BPBD Kaltim siaga kebakaran hutan dan lahan-BPBD Kaltim-
SAMARINDA, NOMORSATUKALTIM - Ancaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kalimantan Timur, mulai menunjukkan peningkatan seiring memasuki musim kemarau.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kaltim mencatat, laporan titik kebakaran hampir diterima setiap hari, meski sebagian besar masih dalam skala kecil. Kondisi itu membuat empat kabupaten menjadi fokus pemantauan karena memiliki tingkat kerawanan tertinggi terhadap Karhutla.
Keempat wilayah tersebut yakni Kabupaten Berau, Kutai Timur, Kutai Barat, dan Kabupaten Paser. Penetapan daerah rawan itu didasarkan pada pemetaan Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) BPBD serta laporan dari BPBD kabupaten dan kota di seluruh Benua Etam.
Kepala Pelaksana BPBD Kaltim Buyung Dodi Gunawan, mengatakan, laporan kebakaran terus berdatangan dari berbagai daerah. Namun hingga saat ini luas lahan yang terbakar pada setiap kejadian masih relatif kecil, rata-rata di bawah lima hektare.
BACA JUGA: BPBD Kaltim Andalkan Satelit dan Laporan Warga untuk Cegah Karhutla Meluas
"Hampir setiap hari ada laporan titik kebakaran. Tetapi untuk luasan yang terakhir kami terima masih di bawah lima hektare," kata Buyung, Sabtu, (25/7/2026).
Menurut Buyung, kondisi tersebut belum menunjukkan peningkatan signifikan karena cuaca di Kalimantan Timur masih diwarnai hujan meski intensitasnya mulai berkurang. Curah hujan yang masih terjadi dinilai membantu mencegah api meluas ke kawasan hutan maupun lahan yang lebih besar.
"Alhamdulillah masih ada hujan. Dampaknya, kebakaran yang terjadi relatif lebih sedikit dibandingkan jika kemarau berlangsung penuh," ujarnya.
BPBD Kaltim memperkirakan, situasi dapat berubah dalam beberapa pekan ke depan seiring bergesernya pola musim kemarau. Semula, musim kering diprediksi mulai berlangsung sejak awal hingga pertengahan Juni.
BACA JUGA: Waspada Karhutla, 171 Titik Panas Terdeteksi di Paser
Namun perkembangan cuaca menunjukkan, awal musim kemarau mundur menjadi akhir Juni dan diperkirakan berlangsung hingga September. Bahkan kondisi kering berpotensi berlanjut sampai November.
"Musim kering tahun ini agak bergeser. Yang awalnya kami perkirakan mulai awal Juni, sekarang kemungkinan mulai akhir Juni sampai September, bahkan bisa sampai November," ucap Buyung.
Ia menjelaskan, pergeseran tersebut menyebabkan kondisi kemarau ekstrem belum dirasakan secara merata di seluruh wilayah Kaltim. Meski suhu udara mulai meningkat, hujan masih sesekali turun sehingga kelembapan lahan masih relatif terjaga.
"Kondisi ini menyebabkan kemarau bergeser, sehingga situasi ekstrem kemarau secara menyeluruh belum begitu dirasakan hingga saat ini," sebutnya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
