Ramli menegaskan, TPST 3R bukan tempat pembuangan akhir yang hanya menumpuk sampah. Sampah yang masuk harus diproses agar tidak menumpuk dan memenuhi lahan yang tersedia.
“Di sini bukan TPA, melainkan TPST 3R. Kalau TPA kan dibuang begitu saja, tidak diapa-apakan. Kalau seperti itu, dalam waktu singkat pasti akan penuh,” tegasnya.
Di tengah tingginya volume sampah yang ditangani, pengelolaan sampah organik di TPST 3R Muara Jawa juga dikembangkan lebih jauh melalui program Biokosmos yang dikembangkan Pertamina Hulu Sanga Sanga.
Program biokonversi sampah organik tersebut telah berjalan sejak 2023. Setelah membangun workshop budidaya maggot, program kemudian berkembang dengan menghasilkan sejumlah produk turunan, seperti pupuk kasgot, pupuk organik cair (POC), dan maggot kering.
BACA JUGA: DLHK Kukar Kejar Target Retribusi Sampah Rp1 Miliar dan Pilah Olah Tingkat RT
Produk-produk tersebut dimanfaatkan untuk mendukung sektor pertanian, peternakan, dan perikanan.
Community Development Officer Pertamina Hulu Sanga Sanga, Lapangan Mutiara, Mega Mutiara Ikasari, mengatakan pada 2026 program Biokosmos mulai diarahkan pada tahap kemandirian melalui replikasi di sejumlah instansi, termasuk lingkungan pendidikan.
SMA Negeri 1 Muara Jawa menjadi lokasi awal replikasi program tersebut melalui keterlibatan Duta Lingkungan Hidup. Para siswa memanfaatkan sisa makanan MBG yang tidak habis dikonsumsi sebagai bahan budidaya maggot.
“Teman-teman kami dorong untuk melakukan replikasi program. Replikasi programnya kami mulai dengan instansi pendidikan, yaitu SMA Negeri 1 Muara Jawa,” ujar Mega.
BACA JUGA: Bupati Berau Berencana Taruh CCTV di Titik Pembuangan Sampah Liar
Dalam skema tersebut, siswa mengambil bibit maggot dari lokasi Biokosmos untuk dikembangkan di sekolah. Setelah tumbuh, maggot tersebut nantinya dapat disalurkan kembali ke GMJB untuk mendukung pengembangan budidaya maggot.
Menurut Mega, pengembangan program Biokosmos dilakukan secara bertahap. Setelah workshop budidaya maggot dibangun pada 2023, pengembangan budidaya dan produk turunannya dilakukan pada 2024.
Pada 2025, produk-produk hasil pengolahan tersebut kemudian diperkuat melalui pengujian laboratorium, termasuk bekerja sama dengan Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan (BBPMP) Kalimantan Timur dan Institut Pertanian Bogor (IPB).
Sementara pada 2026, Pertamina mulai mendorong kemandirian kelompok melalui replikasi program.
BACA JUGA: Enam Kampung di Berau Ditargetkan jadi Sentra Budidaya Ikan Sistem Bioflok
Adapun pada 2027, program tersebut ditargetkan memasuki tahap exit program dan berkembang menjadi pusat pembelajaran pengelolaan sampah organik atau center of learning di Muara Jawa.