Pasokan Terbatas, Logistik SPPG untuk Program MBG di Berau Masih Bergantung dari Luar Daerah
SPPG di Berau masih bergantung pada pasokan bahan pangan dari luar daerah.-DOK/Nomorsatukaltim-
TANJUNG REDEB, NOMORSATUKALTIM — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Berau menghadapi tantangan logistik yang cukup signifikan.
Hingga saat ini, operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) masih sangat bergantung pada pasokan bahan pangan dari luar daerah.
Ketergantungan tersebut tidak terlepas dari ketersediaan komoditas pangan lokal di Berau yang dinilai masih belum memadai untuk menopang skala kebutuhan program yang masif.
Koordinator SPPG Badan Gizi Nasional (BGN) Wilayah Berau, Rani Oktaviana mengungkapkan, bahwa volume kebutuhan bahan pangan untuk mendukung operasional seluruh SPPG di Bumi Batiwakkal tergolong sangat besar.
BACA JUGA: Pedagang Pasar Malam Geruduk Diskoperindag Berau, Protes Wacana Penutupan di Tengah Isu Kabut Asap
Kendati demikian, tingginya kebutuhan ini belum mampu diimbangi oleh kapasitas produksi pertanian lokal.
Padahal, dalam petunjuk teknis operasionalnya, pihak SPPG diwajibkan untuk memaksimalkan penggunaan bahan pangan lokal.
Namun, dengan segala keterbatasan hasil tani di wilayah setempat, pihaknya terpaksa mengambil kebijakan untuk mendatangkan sebagian besar kebutuhan pangan dari luar daerah.
"Kebutuhan bahan pangan di SPPG Berau sangat besar. Namun, itu tidak bisa didukung oleh ketersediaan bahan pangan lokal yang ada saat ini. Meskipun ada kewajiban menggunakan bahan pangan lokal, dengan keterbatasan yang ada, mau tidak mau kami harus menggunakan bahan pangan dari luar Berau," ujar Rani saat dikonfirmasi, Rabu, 9 September 2026.
BACA JUGA: Utamakan Pangan Lokal, Jadi Kunci Keberhasilan Pengembangan Sektor Kuliner di Berau
Berdasarkan pemetaan di lapangan, Rani merinci bahwa komoditas pangan lokal yang sejauh ini sudah mampu diserap dan digunakan oleh SPPG Berau masih sangat terbatas.
Pangan lokal yang tersedia secara berkala baru mencakup telur, daging ayam, buncis, kacang panjang, hingga jagung.
Sementara itu, untuk sejumlah komoditas hortikultura penting lainnya seperti wortel, kol, dan kentang, sama sekali belum bisa disuplai dari petani lokal Berau sehingga harus didatangkan dari luar daerah.
Tantangan serupa juga terjadi pada komoditas beras. Rani menjelaskan, pengadaan beras untuk program MBG tidak bisa dilakukan secara sembarangan, melainkan harus memenuhi ketentuan dan standar tertentu yang ketat.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
