Ya, tanjakan yang namanya masih lekat dalam ingatan banyak warga Balikpapan, karena tragedi yang memakan korban di sana beberapa tahun silam.
Kembali ke demonstrasi mahasiswa. Tentu tidak semua tuntutan itu harus disetujui. Juga tidak semua orang harus sepakat dengan cara mereka menyampaikan aspirasi. Namun saya merasa ada satu hal yang sering terlupakan ketika melihat mahasiswa turun ke jalan. Mahasiswa tidak selalu berbicara untuk dirinya sendiri.
Ibaratnya, mahasiswa tidak harus menjadi korban kecelakaan untuk menyoroti keselamatan jalan. Mereka juga tidak perlu menjadi guru untuk berbicara soal pendidikan. Sama seperti mereka tidak harus hidup susah lebih dulu, untuk menyuarakan keresahan masyarakat terhadap kenaikan biaya hidup.
Sejak dulu mahasiswa memang sering berada di posisi tengah, sebagai jembatan. Mengkritik pemerintah, tetapi juga dikritik masyarakat. Mereka menjadi jembatan antara masyarakat dan pemerintah. Mereka menyampaikan persoalan yang mereka lihat, dengar, dan temukan di tengah kehidupan sehari-hari.
Karena itu, menurut saya, ukuran sebuah aspirasi seharusnya bukan siapa yang menyampaikannya. Terlebih, bukan jenis telepon genggam yang digunakan. Ataupun merek sepatu yang dipakai. Bukan pula status ekonomi orang yang berdiri di atas mobil komando.
Yang seharusnya kita perdebatkan adalah isi dari aspirasi itu sendiri. Benarkah distribusi Pertalite sudah tidak menjadi masalah? Benarkah keselamatan di jalan sudah cukup baik? Benarkah persoalan pendidikan sudah terselesaikan?
Jika jawabannya belum, maka suara-suara yang mengingatkan persoalan tersebut tetap layak didengar.
Malam ini, setelah hiruk-pikuk demonstrasi mereda dan saat pekerjaan tulisan saya akhirnya selesai, saya kembali membuka galeri di telepon genggam.
Jempol saya bergerak pelan menelusuri foto-foto maupun video hasil liputan sepanjang unjuk rasa tadi. Ada wajah-wajah mahasiswa yang tetap berdiri dalam barisan di bawah langit Balikpapan yang sejak pagi diguyur hujan. Ada lembar tuntutan yang berisi berbagai persoalan kota. Ada barisan aparat, pengeras suara, dan kerumunan massa yang memenuhi halaman DPRD Balikpapan, lengkap dengan aksi saling dorong.
Setiap foto seperti membawa saya kembali ke lokasi kejadian. Saya seolah masih bisa mendengar suara orasi yang menggema dari atas mobil komando.
Saya tidak menulis ini untuk membela demonstrasi. Saya juga tidak menulis ini untuk menyalahkan perempuan yang melakukan siaran langsung tadi. Namun pengalaman meliput aksi demonstrasi sore tadi, mengingatkan saya bahwa kepedulian sosial sering kali disalahpahami.
Kita terlalu sibuk melihat siapa yang berbicara, sampai lupa mendengarkan apa yang sedang dibicarakan. Mungkin karena itu, hingga malam ini, yang terus terngiang di kepala saya bukanlah suara orasi dari atas mobil komando. Melainkan cara kita memandang mereka yang memilih untuk bersuara.
Masihkah kita memandang mahasiswa sebagai agent of change, atau kita mungkin terlalu sibuk menilai siapa yang menyampaikannya?
*Penulis adalah Jurnalis Disway Kaltim