Penjelasan PDAM Bontang Soal Tagihan Pelanggan yang Membengkak

Sabtu 04-04-2026,13:03 WIB
Reporter : Michael Fredy Yacob
Editor : Yos Setiyono

Tak hanya itu, ditemukan pula sambungan yang digunakan untuk beberapa pintu usaha. Hingga instalasi bocor yang dibiarkan tanpa laporan.

Kondisi ini, membuat konsumsi air melonjak tanpa disadari. Saat tarif disesuaikan, dampaknya langsung terasa pada tagihan.

“Kadang air terbuang dari tandon, bocor dibiarkan, atau dipakai bersama-sama. Karena selama ini murah, jadi tidak terasa. Begitu tarif naik, baru terasa besar,” ujarnya.

BACA JUGA: DPRD Kubar Desak PDAM Berbenah: Pemutusan Sepihak, Kualitas Air Tidak Konsisten

Suramin menjelaskan, kebutuhan dasar air untuk rumah tangga sebenarnya hanya sekitar 10 meter kubik per bulan.

Perumda bahkan masih memberi toleransi hingga 20 meter kubik.

Sebagai gambaran, 20 meter kubik setara hampir 100 drum air.

Dengan pemakaian tersebut, tagihan air seharusnya masih di bawah Rp 100 ribu per bulan, termasuk beban tetap.

“Kalau sampai 30 kubik, paling tinggi sekitar Rp 150 ribuan. Tapi kalau sudah 60 kubik dalam satu meteran, apalagi dipakai ramai-ramai, itu yang jadi mahal,” katanya.

BACA JUGA: PDAM Tirta Mahakam Kukar Berpeluang Ekspansi Air Bersih ke IKN

Ia menegaskan, jika konsumsi sudah di atas 30 meter kubik, besar kemungkinan ada aktivitas usaha di dalamnya.

Sehingga tidak lagi murni kategori rumah tangga.

Masalah penggunaan satu sambungan untuk banyak rumah juga berdampak lebih luas.

Saat ini, cakupan layanan air bersih di Bontang baru mencapai sekitar 54 persen, masih jauh dari target nasional 80 persen pada 2030.

“Kalau satu meteran dipakai tiga sampai empat rumah, artinya ada warga lain yang belum terlayani. Ini yang membuat cakupan kita sulit meningkat,” jelasnya.

BACA JUGA: Tiga IPA Baru dan Program Pengurangan Kebocoran jadi Fokus PDAM di 2026

Kategori :