Oleh : Sulistiyono Lie
Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Lingkungan UGM
NOMORSATUKALTIM - SEBAGAI salah satu episentrum industri tambang batu bara di Indonesia, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, membutuhkan perhatian khusus.
Meski menjadi tulang punggung ekonomi dan sumber penghidupan masyarakat setempat, kita tidak bisa mengabaikan jejak ekologis seperti perubahan bentangan alam hingga tekanan terhadap kualitas air dan ekosistem sungai.
Dihadapkan pada dilema kebutuhan dan keseimbangan alam sedemikian rupa, peran Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) dibutuhkan untuk memastikan kegiatan pertambangan tidak mengorbankan masa depan lingkungan.
Yang kemudian menjadi pertanyaan adalah: Apakah AMDAL benar-benar menjalankan tupoksinya sebagai pengendali, atau berjalan hanya sekadar formalitas belaka?
Faktanya, menurut kajian yang dilakukan oleh Darpawanto dan kawan-kawan, pertambangan batu bara di Berau umumnya menggunakan sistem tambang terbuka. Sistem ini secara langsung mengubah lanskap hutan, karena kegiatan yang sangat insentif terhadap lahan menjadi area pit dan disposal.
Pembukaan area tambang seperti ini memerlukan pengupasan tanah penutup, pembangunan jalan tambang, serta pembangunan berbagai fasilitas tambang lain yang menggunakan bahan bakar dalam jumlah besar dan menghasilkan emisi karbon signifikan.
Tanpa pengelolaan yang benar, kegiatan pertambangan berpotensi merusak keseimbangan ekosistem dan kualitas lingkungan. Terlebih mengingat aktivitas ini terjadi di berbagai wilayah yang sebelumnya adalah kawasan hutan yang merupakan daerah tangkapan air.
Aktivitas pertambangan sering kali memunculkan konflik lahan, perubahan mata pencaharian, bahkan degradasi kualitas air, ketiganya berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat sekitar tambang.
Isu yang paling sering muncul, misalnya; sedimentasi di sungai meningkat akibat aktivitas pembukaan lahan.
Akibat yang paling dapat dirasakan adalah, ketika hujan turun, tanah yang terbuka terbawa aliran air menuju sungai.
Hal ini jelas akan menjadi penyebab air yang keruh dan pastinya berpengaruh pula pada organisme di perairan.
Sayangnya, sungai-sungai di Berau memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat. Bukan hanya menjadi sumber air, sungai juga menjadi jalur transportasi dan sudah membudaya sebagai bagian dari kehidupan sosial masyarakat lokal.