Tak hanya sebagai pembina, Michael Bambang Hartono juga pernah menjadi atlet. Ia memperkuat Indonesia di cabang olahraga bridge pada Asian Games 2018 di Jakarta-Palembang.
BACA JUGA: MotoGP Qatar Mundur ke November 2026 Imbas Ketegangan Geopolitik di Timur Tengah
BACA JUGA: Elkan Baggott Comeback Bela Skuad Garuda, Masuk Daftar Timnas Indonesia untuk FIFA Series 2026
Di usia 78 tahun saat itu, ia menjadi atlet tertua di kontingen Indonesia dan berhasil menyumbangkan medali perunggu.
Pengabdiannya di dunia olahraga juga tercermin dari berbagai prestasi di tingkat nasional dan internasional di cabang bridge, termasuk medali di kejuaraan dunia.
Di sisi lain, perjalanan bisnisnya juga penuh tantangan. Pada 1963, pabrik Djarum sempat dilanda kebakaran hebat. Namun, ia bersama saudaranya berhasil membangkitkan kembali usaha tersebut hingga berkembang pesat.
Sebagian besar kekayaannya berasal dari sektor perbankan melalui Bank Central Asia (BCA) dan industri rokok Djarum. Ia juga memperluas bisnis ke telekomunikasi, elektronik, dan properti.
BACA JUGA: Matteo Guerinoni: Veda Ega Pratama Satu-Satunya Pembalap Indonesia Paling Disiplin
BACA JUGA: Program DBL Play Road to Kopi Good Day DBL Camp 2026 Berakhir, 10 Student-Athlete Lanjutkan Mimpi
Hingga 2025–2026, keluarga Hartono masih tercatat sebagai salah satu yang terkaya di Indonesia versi Forbes, dengan total kekayaan mencapai puluhan miliar dolar AS.
Meski dikenal sebagai konglomerat besar, Michael Bambang Hartono tetap aktif di dunia olahraga dan menjalani gaya hidup sederhana.
Kini, ia telah berpulang. Namun, warisan yang ditinggalkan, baik di dunia bisnis maupun olahraga, akan terus hidup dan memberi dampak bagi generasi mendatang.