Penjualan Tembus 5 Ton di GPM, TPI Sambaliung Agendakan Pasar Ikan Murah Bulanan

Kamis 19-03-2026,12:00 WIB
Reporter : Maulidia Azwini
Editor : Hariadi

BERAU, NOMORSATUKALTIM – Keberhasilan penjualan sekitar 5 ton ikan dalam kegiatan Gerakan Pangan Murah (GPM) yang digelar Pemerintah Kabupaten Berau belum lama ini, menjadi pijakan awal bagi Unit Pelaksana Teknis (UPT) Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Sambaliung untuk memperluas akses masyarakat terhadap ikan segar dengan harga terjangkau.

Kepala UPT TPI Sambaliung, Frederik Sibulo, mengungkapkan tingginya antusiasme masyarakat dalam kegiatan Gerakan Pangan Murah menjadi sinyal kuat bahwa intervensi langsung di sektor perikanan sangat dibutuhkan.

“Antusias masyarakat luar biasa. Jadi rencana kami akan melaksanakan kegiatan serupa, tapi dipusatkan di TPI Sambaliung sebagai tempat pemasaran ikan,” ujarnya, Rabu 18 Maret 2026.

Frederik menjelaskan, skema awal yang akan diterapkan adalah pelaksanaan pasar ikan murah satu kali dalam sebulan. Langkah ini dilakukan sebagai tahap uji coba agar tidak mengganggu mekanisme pasar yang sudah berjalan.

BACA JUGA: Kendalikan Inflasi Jelang Lebaran, Pemkab Berau Gelar Pangan Murah hingga Operasi LPG

BACA JUGA: TPI Tanjung Batu Digadang-gadang Jadi 'Mesin Uang' PAD Berau

“Kalau kita lakukan terlalu sering, itu bisa mengganggu pasar. Jadi kita coba dulu satu bulan sekali, nanti ke depan baru kita evaluasi, apakah bisa ditingkatkan menjadi seminggu sekali khusus di TPI,” jelasnya.

Menurutnya, rencana tersebut juga memperoleh dukungan dari para pelaku usaha perikanan hingga organisasi nelayan seperti Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI), yang dinilai berperan penting dalam menjaga keberlanjutan dan ketersediaan pasokan ikan lokal.

Sementara itu, Frederik menilai potensi perikanan di Berau sejatinya sangat melimpah. Bahkan, produksi nelayan kerap melebihi kebutuhan lokal, sehingga sebagian besar harus dikirim ke luar daerah seperti Malinau, Samarinda, hingga Bulungan.

“Selama ini ikan dari nelayan tidak semuanya bisa terserap di Berau. Setelah kebutuhan lokal terpenuhi, sisanya dikirim ke luar daerah. Rata-rata setiap hari bisa 1 sampai 2 ton dikirim keluar,” ungkapnya.

BACA JUGA: Bupati Berau Minta Portal Elektronik Diaktifkan Lagi Usai Lebaran

BACA JUGA: Food Court Lantai 2 PSAD Sepi, Pengelola Usulkan Diisi Pelayanan Publik

Melimpahnya produksi tersebut, lanjut dia, seharusnya bisa menjadi peluang untuk menjaga stabilitas harga di tingkat konsumen. Namun, panjangnya rantai distribusi membuat harga ikan di pasaran tetap tinggi.

Ia mencontohkan, harga ikan layang yang menjadi salah satu komoditas utama kerap mengalami lonjakan karena melewati beberapa tahapan distribusi sebelum sampai ke tangan konsumen.

“Ikan layang ini termasuk komoditas yang sering memicu inflasi. Di lapangan, harga bisa sampai Rp60 ribu per kilogram karena sudah melalui beberapa tangan, dari nelayan ke pengepul, lalu ke pedagang,” paparnya.

Kategori :