Jika kedua indikator tersebut digabungkan dalam skala 0 hingga 100, di mana 0 berarti sangat tidak cemas dan 100 berarti sangat cemas, rata-rata skor kecemasan masyarakat berada di angka 24,5.
Sebanyak 93 persen responden memiliki tingkat kecemasan rendah (skor 0–50), sementara hanya sekitar 7 persen yang memiliki tingkat kecemasan tinggi.
Meski demikian, perubahan selama satu bulan eksperimen menunjukkan pola yang berbeda antara kelompok responden. Pada kelompok kontrol, skor kecemasan meningkat dari 24,3 pada survei pertama menjadi 25,0 pada survei kedua.
Sebaliknya, kelompok yang menghentikan penggunaan media sosial mengalami penurunan kecemasan. Skor kecemasan kelompok T1 turun dari 25,1 menjadi 23,7, sedangkan kelompok T2 turun lebih jauh dari 24,2 menjadi 22,3.
Perubahan ini memperlihatkan penurunan selisih yang signifikan dibandingkan kelompok kontrol. Selisih skor kecemasan antara kelompok T1 dan kelompok kontrol berubah dari +0,8 pada survei pertama menjadi -1,3 pada survei kedua. Sementara selisih antara kelompok T2 dan kelompok kontrol berubah dari -0,1 menjadi -2,7.
Deni menyimpulkan bahwa istirahat dari media sosial, terutama jika dilakukan bersama seluruh anggota rumah tangga, berkontribusi menurunkan tingkat kecemasan pengguna.