Menjadi Ibu di Ruang Redaksi

Senin 09-02-2026,22:48 WIB
Oleh: Didik Eri Sukianto

Oleh: Chandra Ismi

DUNIA kerja di Indonesia hingga kini masih memandang status ibu sebagai keterbatasan, bukan kapasitas. Terutama pada profesi yang menuntut kehadiran fisik, waktu fleksibel, dan kesiapan mental, salah satunya di bidang jurnalistik.

Padahal, menjadi ibu justru melatih banyak hal yang tidak pernah diajarkan di ruang redaksi: ketahanan emosional, manajemen krisis, hingga empati dalam membaca realitas sosial.

Di tengah dunia kerja yang kerap mensyaratkan “single, belum menikah, usia maksimal”, status berkeluarga sering kali dipandang sebagai keterbatasan, bukan potensi. Realitas ini pun masih jamak ditemui di negara ini.

Banyak perempuan, terutama ketika ia sudah menjadi ibu, harus berhadapan dengan stigma bahwa mereka tidak cukup fokus, tidak cukup fleksibel, atau tidak cukup ambisius.

Padahal bagi sebagian perempuan, justru peran ganda itulah yang membentuk kedewasaan dalam bekerja, diantaranya lebih disiplin, lebih terencana, dan lebih bertanggung jawab.

Dunia jurnalistik memang bukan ruang yang ramah pada jam pasti. Deadline datang tanpa kompromi, liputan bisa terjadi kapan saja, dan waktu sering kali terasa tidak adil.

Namun pengalaman saya menunjukkan bahwa dukungan lingkungan kerja yang sehat dan kepemimpinan yang manusiawi, membuat segalanya menjadi mungkin.

Ruang seperti ini penting, bukan hanya bagi saya, tetapi bagi banyak perempuan yang kerap harus memilih antara peran domestik dan profesional.

Kesempatan mungkin terdengar sederhana, tetapi di tengah realitas dunia kerja yang masih sering diskriminatif, ia menjadi sangat berarti.

Kesetaraan tidak selalu hadir dalam kebijakan besar, namun terkadang ia tumbuh dari keputusan kecil. Memberi kepercayaan, memberi ruang, dan melihat manusia secara utuh.

Di balik ritme kerja yang tak pernah melambat itu, saya tiba-tiba memasuki fase paling rapuh dalam hidup: kehamilan, yang kedua.

Ya, pada saat yang sama, saya justru menghadapi salah satu liputan yang cukup berat, yakni kasus pelecehan seksual terhadap anak berusia dua tahun. Kasus itu saya kawal sejak awal hingga vonis.

Sebagai ibu, perkara pidana tersebut bukan sekadar bahan berita. Ia menjadi beban emosional yang nyata.

Mendalami berkas, mengikuti proses hukum, hingga menyerap kisah-kisah dibalik layar yang pembaca tak mengetahui, membuat saya berada dalam tekanan psikologis yang tidak ringan.

Kategori :