Bos BEI dan OJK Kompak Mundur, Ekonom Ingatkan Risiko Krisis Kepercayaan Investor

Sabtu 31-01-2026,09:31 WIB
Editor : Hariadi

JAKARTA, NOMORSATUKALTIM – Pasar keuangan nasional sedang menjadi pusat perhatian publik setelah serangkaian pengunduran diri pimpinan lembaga otoritas pasar modal dan jasa keuangan dalam sepekan terakhir. 

Situasi ini memicu kekhawatiran terhadap kepercayaan investor, di tengah tekanan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan sorotan lembaga internasional terhadap iklim investasi Indonesia.

Setelah pengunduran diri Direktur Utama (Dirut) PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Iman Rachman pada Jumat, 30 Januari 2026, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga mengonfirmasi mundurnya sejumlah pejabat puncak. 

Mereka adalah Ketua Dewan Komisioner OJK, Mahendra Siregar; Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon (KE PMDK) OJK, Inarno Djajadi; serta Deputi Komisioner Pengawas Emiten, Transaksi Efek, Pemeriksaan Khusus, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon (DKTK), I.B. Aditya Jayaantara.

BACA JUGA: Pabrik Amonia Kaltim 2 Selesai Peremajaan, Biaya Operasional Hemat Rp200 M per Tahun

BACA JUGA: Tunggakan Pajak Restoran di Balikpapan Tersisa Rp3,1 Miliar 

Rangkaian pengunduran diri ini terjadi di tengah tekanan berat pasar saham sepanjang periode 26—30 Januari 2026. 

Pada Rabu, 28 Januari 2026, IHSG sempat merosot hingga 8 persen dan memaksa BEI melakukan trading halt untuk menjaga keteraturan perdagangan. 

Sehari berselang, Kamis 29 Januari 2026, perdagangan kembali dihentikan sementara sebanyak dua kali akibat tekanan lanjutan.

IHSG pada periode 26—30 Januari 2026 terkoreksi 6,94 persen dan ditutup di level 8.329,606, dari posisi 8.951,010 pada pekan sebelumnya. Kapitalisasi pasar turun 7,37 persen menjadi Rp15.046 triliun.

BACA JUGA: LinkUMKM Jangkau 14,8 Juta Pengusaha, BRI Dorong Penguatan Usaha Berbasis Digital

BACA JUGA: Kepala BI Kaltim Berganti, Pemprov Harap Penguatan Sinergi dan UMKM

Ekonom Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayat, menilai pengunduran diri para pejabat otoritas keuangan tersebut bukan sekadar pergantian jabatan, melainkan sinyal serius bagi persepsi pasar.

"Masalahnya bukan hanya indeks turun, lalu naik lagi. Ketika puncak pengawas dan operator bursa mundur bersamaan, publik akan bertanya apakah sistem sedang kehilangan kendali, atau minimal sedang mengalami tekanan yang lebih besar dari yang disampaikan lewat konferensi pers," jelas Achmad, dikutip Disway.id, Jumat (30/1/2026).

Ia menambahkan, situasi ini berpotensi memicu krisis kepercayaan investor, terutama di tengah sorotan lembaga indeks global MSCI terhadap aspek “investability” Indonesia. 

Kategori :