"Mereka sudah mau untuk membangun pabrik di luar pulau Jawa. Selama ini, terlalu terfokus di pulau Jawa,” tegasnya.
Selain itu, untuk jangka panjang, dengan hadirnya pabrik tersebut, arus logistik akan merata. Selama ini, ia menilai arus logistik di Indonesia timpang.
BACA JUGA:Investasi Besar pada Proyek Pembangunan IKN, HIPPI: Masih Sedikit Pengusaha Daerah Terlibat
“Kapal logistik dari pulau Jawa ke luar Jawa pasti penuh. Tapi, ketika balik, kapal itu pasti kosong. Atau tidak sebanyak saat pergi,” ucapnya.
Hal itu disebabkan, mayoritas pabrik untuk kebutuhan masyarakat besar banyak di pulau Jawa. Salah satunya di Jawa Timur. Kondisi itu dinilai tidak imbang. Karena, dari segi pembiayaan, hanya dibebankan kepada pengusaha di pulau Jawa saja.
“Sehingga, dengan bertumbuhnya industri di luar pulau Jawa, arus logistik nasional akan merata. Bisa dua arah gitu."
"Jadi, dari Jawa Timur misalnya kirim ke Kalimantan Timur, nanti pasti ada barang dari sana yang dikirim lagi ke Jatim. Perputaran ekonomi pasti jalan,” katanya lagi.
Ia juga menilai, pabrik itu perlahan akan menggeser ketergantungan masyarakat Kalimantan Timur terhadap sumber daya alam (SDA) dari perut bumi.
BACA JUGA:PPU dan 2 Daerah Selatan Kaltim Sepakat Kolaborasi Hadapi Tantangan Inflasi
Selama ini, masyarakat Bumi Etam hanya bergantung dari hasil bumi: minyak dan batu bara.
Bahkan, sekitar 70 persen peningkatan ekonomi di provinsi itu hanya dihasilkan dari pertambangan.
Kini, ketergantungan itu perlahan akan memudar seiring hadirnya industri-industri yang tidak bergantung pada hasil perut bumi.
“Tapi dalam jangka pendek, saya menilai kehadiran pabrik soda ash ini akan berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi daerah yang signifikan. Perkiraan saya, bisa lah naik pertumbuhan ekonomi 1-2 persen per bulan,” katanya lagi. (Michael Fredy Yacob)