BPBD juga melakukan upaya mitigasi dengan mendata kerusakan, memberikan imbauan kepada warga, serta mengedukasi agar mereka siap melakukan evakuasi mandiri.
Tak hanya itu, mereka juga akan melakukan penjagaan di area tersebut. "Kami menyiapkan antisipasi penjagaan untuk potensi susulan. Yang utama, keselamatan warga dulu," tegas Reza.
Hingga menjelang malam hari, 6 kepala keluarga terdampak sementara berniat mengungsi ke rumah kerabat terdekat.
Sementara itu, Dinda (20) salah satu korban, terkejut mendapati motor miliknya rusak berat, akibat dijatuhi bongkahan batu besar dari material longsor.
BACA JUGA: Banjir Lumpuhkan Aktivitas Sekolah di Mahulu, Wilayah Matalibaq Paling Parah
Mahasiswi Ilmu Pemerintahan 2022 itu mengaku syok atas kejadian ini dan sempat menangis saat bertemu salah satu kerabatnya.
Menurut Dinda, longsor kali ini merupakan yang terparah sejak ia tinggal di lokasi tersebut mulai 2024. Motor matic miliknya hancur tertimpa batu besar, padahal kendaraan itu adalah alat transportasi utama untuk kuliah dan mencari nafkah bekerja sebagai freelancer guru privat.
Ia menuturkan, longsor berasal dari perbukitan di belakang bangsal yang terhubung dengan Jalan MT Haryono.
"Cuaca saat itu hujan deras. Sebelumnya memang sering longsor kecil, batu-batu saja. Tapi baru kali ini yang besar sampai menimpa teras dan kena motor," jelasnya.
BACA JUGA: Sungai Mahakam Meluap, Permukiman Warga Tering di Kubar Terendam Banjir
Ia menyebut longsor di lokasi itu sudah terjadi lebih dari 5 kali. "Kalau kejadian besar, ini sudah kedua kali. Tapi kali ini yang paling parah," ungkapnya.
Dinda berharap ada perhatian dari pemerintah Kota Samarinda terhadap keselamatan warga di kawasan rawan longsor tersebut.
"Kami butuh perhatian, terutama soal bantuan untuk perbaikan kendaraan. Itu sangat penting untuk kehidupan sehari-hari. Selain itu, kami juga berharap keamanan di lingkungan ini lebih diperhatikan," pungkasnya.