Di sisi lain, kawasan agrowisata di Desa Kaubun menghadirkan nuansa berbeda.
BACA JUGA: BPBD Kutim Sebar Edaran Hingga RT, Antisipasi Potensi Karhutla Selama Kemarau
Sentuhan budaya Bali menjadi daya tarik utama, mengingat sebagian besar pengelola kawasan berasal dari Bali.
Saung permanen, spot foto, dan ukiran khas Bali menjadi ciri khas yang ditawarkan.
“Konsepnya memang Bali banget. Bahkan saung tani di sana juga permanen dan bisa digunakan untuk pertemuan maupun pelatihan petani,” imbuhnya.
Dyah menambahkan, potensi pengembangan agrowisata di Kutim masih terbuka lebar.
Kepala DTPHP Kutim, Dyah Ratnaningrum.-(Disway Kaltim/ Sakiya)-
BACA JUGA: DTPHP Pacu Hirilisasi Nanas, Buka Peluang Pasar Lebih Luas
BACA JUGA: Wabup Kutim: Fokus Holtikultura dan Pemerataan Pembangunan hingga Pedalaman
Salah satu lokasi yang dipertimbangkan untuk dikembangkan selanjutnya adalah kawasan Disekerat.
Namun, pemilihan lokasi tetap mempertimbangkan kesiapan kelompok tani setempat.
“Kalau Teluk Pandan sudah jalan, Disekerat akan kami lihat potensi dan kesiapan kelompok taninya,” katanya.
Untuk saat ini, komoditas utama yang mendasari agrowisata di dua desa tersebut adalah padi.
BACA JUGA: Pedagang di STQ Setuju Taman Dibangun Ulang, Tapi Minta Diberi Waktu Tetap Jualan
BACA JUGA: Klaim Serapan Dana Desa Capai 99 Persen, DPRD Minta Penelusuran Mendalam