Namun ke depan, Dyah membuka kemungkinan agrowisata berbasis buah-buahan, sayuran, atau komoditas lokal lainnya.
“Kami tidak ingin memaksakan. Harus datang dari niat kelompok tani itu sendiri. Kalau tidak ada kemauan dari mereka, ya sulit untuk jalan,” tegasnya.
DTPHP Kutim menilai bahwa kesadaran masyarakat desa terhadap potensi wisata lokal mulai tumbuh.
Pemerintah desa pun disebut sangat aktif dalam mendorong inisiatif warga serta memfasilitasi pengembangan kawasan.
BACA JUGA: Dana Desa di Kutim Diselewengkan Hampir Rp 2 Miliar, Oknum Bendahara Diduga Terlibat
BACA JUGA: Dokumen Anggaran Belum Ada, Pembahasan APBD Perubahan Kutim 2025 Terlambat
“Baik di Kaubun maupun Teluk Pandan, kepala desa masing-masing sangat mendukung. Antusiasme warga juga tinggi. Harapannya ini bisa direplikasi di wilayah lain dengan menyesuaikan potensi dan kearifan lokal masing-masing,” tutup Diah.