Hari Anak Nasional di Kutai Barat: Bebaskan Anak Bermimpi, Tolak Pernikahan Dini

Sabtu 26-07-2025,09:59 WIB
Reporter : Eventius Suparno
Editor : Hariadi

Pemkab Kubar, kata Edwin, terus memperkuat kerja sama lintas sektor untuk memastikan anak-anak bisa hidup dan tumbuh dalam kondisi yang sehat secara jasmani maupun rohani.

"Anak-anak juga punya hak untuk rekreasi, untuk bersenang-senang, beristirahat, dan menikmati masa kecil mereka. Dan jangan lupa, mereka juga butuh makanan yang bergizi, sehat, dan cukup. Itu bagian dari upaya kita membangun generasi yang kuat," tambahnya.

Menurut Frederick, pemerintah daerah akan memperkuat pelayanan jaminan kesehatan anak, serta memastikan bahwa setiap anak di Kutai Barat memiliki akses yang setara terhadap layanan dasar.

"Jangan lupa, anak juga berhak mendapatkan kasih sayang dari keluarga dan diakui sebagai warga negara. Hak atas keluarga tidak bisa digantikan oleh apapun," tuturnya.

BACA JUGA: Kekerasan Anak di Kutim masih Menjadi Masalah yang Serius, LPAI Kutim Minta Sinergi Antarinstansi

Lebih jauh, Bupati menyebutkan bahwa anak-anak harus dilibatkan dalam proses pembangunan, sesuai dengan usia dan kapasitas mereka. 

Memberikan ruang bagi anak untuk berpartisipasi, lanjutnya, adalah cara terbaik untuk membentuk warga negara yang kritis dan peduli sejak dini.

"Dan yang paling penting, setiap anak berhak mendapatkan kesetaraan. Tidak boleh ada diskriminasi karena latar belakang, agama, suku, atau kondisi fisik. Hak anak itu universal," pungkasnya.

Sementara itu, Maria, salah satu panitia kegiatan dari jaringan Pusat Pengembangan Anak di Kutai Barat, menjelaskan bahwa tema perayaan kali ini sengaja dipilih karena masih maraknya praktik pernikahan di bawah umur di sejumlah kampung.

BACA JUGA: Putri, Anak Tukang Tambal Ban Asal Bontang Jadi Wakil Kaltim ke Paskibraka Nasional 2025

"Kami ingin memberikan ruang kepada anak-anak untuk menyuarakan hak mereka, agar semua pihak sadar bahwa pernikahan dini itu mencuri masa depan. Anak-anak harus bebas bermimpi dan mengembangkan diri," ujar Maria.

Ia menambahkan bahwa kegiatan ini bukan sekadar selebrasi, tapi bagian dari gerakan edukasi sosial. 

Dalam perayaan tersebut, anak-anak dari berbagai kecamatan menampilkan drama, musik, hingga pembacaan puisi bertema perlindungan anak dan perlawanan terhadap pernikahan dini.

"Yang tampil malam ini bukan anak-anak kota saja. Ada juga dari kampung-kampung seperti Damai, Bongan, Jempang, Siluq Ngurai, dan lainnya. Ini bukti bahwa suara anak dari pelosok pun penting dan harus didengar," kata Maria.

BACA JUGA: 2 Balita Tewas Dihabisi Ayah Kandung, Tragedi Keluarga Gegerkan Warga Sungai Kunjang

Dalam pementasan panggung, anak-anak memvisualisasikan 10 hak dasar anak yang menjadi bagian penting dalam Konvensi Hak Anak. 

Kategori :