Yang berbeda hari ini adalah kecepatannya. Jika dulu framing dilakukan oleh media arus utama, kini framing dilakukan berjamaah oleh netizen.
Tagar #MediaTempoPengkhianatBangsa adalah contoh framing horizontal. Bukan elit yang memulai, tapi publik yang membangun narasi.
Tapi ironisnya, publik juga bisa digiring untuk mempercayai narasi itu, bahkan tanpa mengecek cerita aslinya.
Di sinilah perang sebenarnya terjadi: bukan di redaksi Tempo, tapi di dalam kepala kita.
Ada yang mengatakan ini bukti bahwa masyarakat melek media. Saya justru khawatir sebaliknya.
BACA JUGA: Danantara: Oase Sesaat atau Upaya Mewujudkan Asta Cita
Ini pertanda bahwa masyarakat tidak lagi membedakan antara kritik dan hukuman massal. Antara menganalisis dan membakar.
Kita tidak lagi bertanya: apakah berita itu salah? Kita hanya bertanya: apakah berita itu membuat kita marah?
Dalam logika media sosial, kebenaran bukan lagi soal verifikasi. Kebenaran adalah apa yang paling banyak dibagikan. Apa yang paling emosional.
Apa yang membuat orang merasa “paling cinta bangsa” walau belum tentu paham apa yang sedang diperdebatkan.
Saya tidak membela Tempo. Juga tidak menghakimi mereka. Sebagai media, mereka bisa salah. Mereka bisa bias.
Tapi yang mengkhawatirkan adalah: di era digital ini, media dihukum bukan melalui kritik berargumen, tapi melalui stempel-stempel massal.
BACA JUGA: Tebak-tebakan Hasil Akhir Sidang Pilkada Kukar 2024 di MK
Dan lebih bahaya lagi: stempel itu seringkali dipasang lebih cepat daripada klarifikasi diberikan.
Ini membuat saya bertanya-tanya, apakah kita sebagai publik sebenarnya masih punya ruang untuk berpikir?
Atau sekarang kita hanya bereaksi? Hanya memilih: like atau dislike? Retweet atau skip? Berteriak atau diam?