"Dewa turun, sembahyang-sembahyang hingga Cap Go Meh, sehingga ini rutin dilakukan. Ya, semoga semakin membaik," ucapnya.
Hanson mengimbau kepada masyarakat, agar selalu waspada di tahun ular kayu ini. Pasalnya, ular kayu menurut kalender shio china, terbagi menjadi 2 arti. Baik positif maupun negatif.
Ular, melambangkan kebijaksanaan, intuisi, dan transformasi. Sementara itu, elemen Kayu memberikan energi yang mencerminkan pertumbuhan, kreativitas, dan harmoni. Kombinasi antara Ular dan elemen Kayu ini menciptakan tahun yang sarat dengan peluang untuk pertumbuhan pribadi dan perubahan positif.
"Jadi harus bijak-bijak juga menghadapi tahun 2025 ini. Berhati-hati karena ular ini binatang yang bijaksana dan kalau negatifnya itu mematikan dengan bisanya," tuturnya.
Hanson berharap, masyarakat tionghoa yang merayakan imlek dapat beribadah dengan nyaman di kelenteng ini. Dia juga mempersilakan bagi wisatawan lokal untuk datang berkunjung.
"Silakan untuk foto-foto, ya kita telah menyiapkan hiburan-hiburannya. Jadi, silahkan datang berkunjung," tutupnya.
Kelenteng Thien Le Kong menjadi salah satu warisan budaya dan keagamaan yang patut dilestarikan di Samarinda. Kelenteng ini juga menjadi saksi bisu dari perkembangan kota Samarinda, yang semakin maju dan modern.