Ervina Fitriyani. (Istimewa) Samarinda, DiswayKaltim.com – Pertumbuhan ekonomi Kaltim sebesar 6,89 persen pada triwulan III 2019 disambut positif pengusaha batu bara. Pertumbuhan tersebut dinilai mencerminkan kontribusi sektor batu bara terhadap perekonomian Bumi Etam. Sekretaris Umum CSR Forum Kaltim Ervina Fitriyani mengatakan, produksi emas hitam turun triwulan III 2019. Penyebabnya, kebijakan domestic market obligation (DMO). Namun harga batu bara di pasar global membuat kontribusi sektor ini dalam Produk Demestik Regional Bruto (PDRB) tetap tinggi. “Meski pun kuota produksi nasional kita dikurangi, tetapi ini apresiasi juga buat teman-teman di pertambangan. Kita tidak terpaku pada produksi nasional. Masih tetap jalan dan meningkat kontribusinya,” kata Vina kepada Disway Kaltim, Jumat (22/11/2019). Dia menilai, kontribusi sektor batu bara sebesar 46 persen pada PDRB Kaltim juga dipengaruhi kesuksesan program sustainable development. “Sejak 2016 sampai 2019, kita cukup getol membuat program. Bagaimana batu bara ini tetap sustainable untuk ekonomi kerakyatan dan kemandirian. Saya yakin itu salah satu sebabnya,” ungkap dia. Secara individual, khususnya di perusahaan batu bara yang dipimpin Vina, dalam kondisi terburuk pun, perusahaan yang dinakhodainya tak mendapat masalah. Tetap produksi dan tidak merumahkan karyawan. “Saya ingat banget 2016 itu minus pertumbuhan ekonominya. Waktu itu kita tetap produksi. Apalagi sekarang. Justru semakin membaik,” ungkapnya. Berbeda dengan sektor batu bara, produksi sektor perkayuan justru menurun. Tak sebanding dengan pertumbuhan ekonomi Kaltim yang meningkat tajam pada triwulan III 2019. Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Panel Kayu Indonesia (Apkindo) Kaltim Novel Chaniago menyebut, penurunan produksi kayu di Kaltim disebabkan perang dagang Amerika Serikat dan China yang tak kunjung berhenti. “Sehingga pasar ke China itu sempit sekali. Terus ke Amerika juga masih lesu. Ekspor yang ada itu di India. Cuma harganya turun. Karena dipengaruhi negara-negara lain,” beber Novel. Ia memperkirakan, penurunan produksi kayu di Kaltim pada 2019 mencapai 40 persen (year on year). Akibatnya, banyak pabrik kayu yang tergabung dalam Apkindo menghentikan produksinya. “Ada pabrik yang sudah empat bulan enggak jalan. Dampaknya besar. Meski pun belum ada PHK massal. Ada tanda-tanda ke arah itu,” sebutnya. (qn/eny)
Batu Bara Tumbuh Positif, Perusahaan Kayu Terpukul
Sabtu 23-11-2019,12:01 WIB
Reporter : Benny
Editor : Benny
Tags :
Kategori :
Terkait
Terpopuler
Minggu 01-03-2026,12:18 WIB
Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei Meninggal Dirudal, Siapa Pengganti Selanjutnya?
Minggu 01-03-2026,11:35 WIB
Iran Kecam Serangan AS dan Israel, Ancam Balasan Tegas serta Desak Dewan Keamanan PBB Bertindak
Minggu 01-03-2026,08:36 WIB
Upaya Pemerintah Tingkatkan Kesejahteraan Guru Honorer
Minggu 01-03-2026,12:02 WIB
Konflik Timur Tengah Ganggu Jadwal Umrah, 58.873 Jemaah Indonesia Masih di Arab Saudi
Minggu 01-03-2026,06:40 WIB
Gunung S Nyuatan, Surga Tersembunyi di Tanah Kutai Barat
Terkini
Minggu 01-03-2026,22:48 WIB
Pedro Acosta Puncaki Klasemen Sementara MotoGP, The Bezz Posisi 2
Minggu 01-03-2026,22:11 WIB
160 Orang Diperkirakan Tewas dalam Serangan Israel-AS ke Iran, 7 Lokasi di Teheran jadi Sasaran Rudal
Minggu 01-03-2026,21:41 WIB
Gubernur Kaltim Kembalikan Mobil Dinas Rp8,5 Miliar, Proses Pembatalan sedang Berlangsung
Minggu 01-03-2026,21:24 WIB
Satlantas Polres Kukar Patroli di Titik Rawan Balap Liar, Jika Tertangkap Motor Ditahan 3 Bulan
Minggu 01-03-2026,20:54 WIB