Samarinda, DiswayKaltim.com – Membengkaknya piutang PDAM sejak 2001 menjadi sorotan. DPRD yang memiliki fungsi kontrol harus turun tangan. Mempertanyakan persoalan ini. Akademisi hukum dari Universitas Mulawarman Herdiansyah Hamzah menegaskan itu. Salah satu aspek pengawasan yang mesti dibereskan adalah peta pelanggan. Terutama yang terdeteksi sering menunggak. "Jangan sampai masyarakat kecil yang dikejar duluan," ulasnya. Castro, sapaan akrabnya, menyebut secara teknis perlu dilakukan peralihan sistem pendataan. Dari konvensional ke online. Harus menyeluruh. Sehingga lebih mudah dilacak jika ada yang belum membayar. Termasuk juga soal pembenahan sistem penagihan. "Tak boleh pasif hingga menunggu piutang sampai miliaran begitu," tegas dosen Fahukum Unmul itu. Memang nasib apes ditimpa kepada penghuni baru. Dimana penghuni sebelumnya telat membayar. Itu merupakan konsekuensi secara perdata. PDAM melihat rumah sebagai objek. Sehingga siapa pun yang menguasai rumah tersebut, termasuk ketika berpindah tangan, otomatis akan tertagih. "Jadi yang ditagih itu adalah objek rumah. Orang sebagai pemilik hanya secara administratif," urai Herdiansyah. Semestinya DPRD ambil bagian menjadi pengawas. DPRD berhak memanggil direktur PDAM. Memertanyakan alasan piutang tersebut belum terselesaikan selama bertahun-tahun. Akan tetapi bukan berarti pengawasan DPRD lemah mengawasi perusda. Herdi melanjutkan bisa jadi karena informasi terkait itu tertutup dan baru saja dibuka ke publik belakangan ini. "Kalau sudah diketahui khalayak namun tetap didiamkan, itu baru lalai karena tidak menggunakan fungsi pengawasan," singgungnya. Sayangnya, jajaran Komisi II DPRD Samarinda justru tidak di tempat. Media ini mencoba mengonfirmasi sekretaris Komisi II DPRD Samarinda Novi Marinda namun tidak direspon. Pun demikian dengan anggota lainnya, Laila Fatihah. Sebelumnya, pelanggan PDAM Tirta Kencana Samarinda banyak yang menunggak pembayaran. Total tagihan Rp 138 miliar. Akumulasi sejak 2001 hingga Agustus 2019. Manajemen PDAM menyurati pelanggan yang menunggak tersebut. Waktu 14 hari diberikan untuk melunasi. Jika tidak, PDAM akan menempuh jalur hukum. Sebagian besar penunggak adalah perusahaan, developer perumahan, pusat perbelanjaan modern (mal), gerai ruko dan masyarakat umum. Totalnya mencapai Rp 6,9 miliar. (hdd/boy) Baca juga : PDAM Diputus, Sisa tunggakan Tetap Wajib Bayar
Tagihan Air Rp 138 Miliar, DPRD Harus Panggil Dirut PDAM
Jumat 18-10-2019,18:51 WIB
Reporter : bayong
Editor : bayong
Tags :
Kategori :
Terkait
Terpopuler
Jumat 06-11-2026,18:30 WIB
Tujuh Koperasi Merah Putih Ditargetkan Beroperasi, Pemkab Kutim Kawal Kesiapan Pengelolaan
Jumat 06-11-2026,17:37 WIB
PWI Berau Tembus Posisi Runner-Up Porwada Kaltim IV 2026
Sabtu 07-11-2026,05:59 WIB
Ramalan Cuaca Kaltim dan IKN, 7 November 2026, Cek di Sini!
Jumat 06-11-2026,17:00 WIB
Pemkot Samarinda Dorong Industri Pelayaran Jadi Penggerak Ekonomi Sungai Mahakam
Jumat 06-11-2026,14:06 WIB
Pemkot Samarinda Hitung Ulang Kemampuan Fiskal Sebelum Garap Proyek PJU
Terkini
Sabtu 07-11-2026,13:49 WIB
Borneo FC Vs PSM Makassar Tanpa Penonton, Mauro Jeronimo Optimistis Tiga Poin
Sabtu 07-11-2026,12:50 WIB
Hanya 2 Kandidat Lolos Administrasi, Seleksi Direktur Perumdam Tirta Kandilo Paser Diperpanjang
Sabtu 07-11-2026,12:00 WIB
Hacker Bobol Sistem Bank Prancis, Gasak Dana hingga Rp14,18 Triliun
Sabtu 07-11-2026,11:00 WIB
Waktu Tinggal 1,5 Bulan, Wagub Kaltara Desak Kontraktor Tuntaskan Proyek Pemprov
Sabtu 07-11-2026,10:30 WIB