Bankaltimtara

KH Sabranity Alumnus Gontor

KH Sabranity Alumnus Gontor

KH Sabranity Alumnus Gontor-istimewa-

Oleh : Baharunsyah

Redaktur Disway Kaltim

 

NOMORSATUKALTIM - Saya bukan alumni pondok pesantren Gontor. Atau orang yang pernah studi banding atau sekedar belajar singkat ke sana. Saya tahunya Gontor adalah pondok pesantren modern yang usianya kini sudah genap 100 tahun.  

Ponpes Gontor beberapa hari ini memang sedang viral. Saat perayaan 100 tahun Gontor, yang dihadiri Presiden Prabowo, sambutan pimpinan Ponpes Gontor KH Hasan Abdullah Sahal seperti tak ada filter.

Berani mengkritik penguasa di depannya secara halus dan jenaka. Sampai gesturnya yang seperti tidak mau tunduk, tapi justru percaya diri memberikan nasehat dan masukkan di depan Prabowo secara langsung. 

Sayangnya, pendidikan saya dari kecil sampai kuliah adalah pendidikan formal. Tidak pernah mondok di pondok pesantren (ponpes). Tapi saya sering berinteraksi dengan beberapa alumnus pondok Gontor. Kadang saya tanya, bagaimana suasana pembelajaran di sana. Apakah mondok seperti se'konservatif' itu. Jauh dari peradaban. Banyak mengkaji kitab kuning. Tidak mempelajari ilmu-ilmu keduniawian lainnya?

Ternyata pandanga saya itu sirna oleh penuturan beberapa kawan saya yang pernah mondok di sana. Di sana justru cukup modern. Ilmu agama dan pendidikan formal diajarkan sekaligus. Semua santrinya diajarkan bahasa asing tidak cuma arab. Mengkaji kitab kuning memang wajib, tapi ilmu-ilmu pendidikan formal juga diajarkan. jadi ilmu agama dan ilmu dunia diajarkan seimbang. 

Nah, kali ini saya mau belajar tentang Gontor dari salah satu santrinya, mungkin di tahun 1950-1960an. Ia adalah seorang laki-laki. Terkenal di Kaltim terutama di kalangan orang-orang tua, seorang ulama ternama bahkan sampai menulis buku. Namanya KH Sabranity

Saya mungkin tidak banyak berguru dengan beliau. Bahkan, ketika beliau berpulang mungkin sekitar tahun 2000an, saya masih duduk di bangku SD. Saya cuma tahu beliau adalah ulama. Tokoh agama yang dipandang. Terkenal.

Tapi seiring bertambahnya usia, saat hobi membaca saya berada di fase 'prime' nya, sekitar SMA, saya membaca dua buah buku. Judulnya: Alquran dan Matematika, lalu buku perbandingan agama Islam-Kristen. Beliau itu yang nulis.

Saya senang membaca bukunya, terutama Islam dan matematika. Disitu disampaikan bagaimana kesinambungan ayat-ayat Alquran yang saling terhubung dengan unsur-unsur matematika. Misalnya dalam keteraturan angka dan statistik. Kata yaum (hari) ditulis sebanyak 365 kali dan kata syahr (bulan) disebutkan sebanyak 12 kali. Ini selaras dengan konsep hari dalam penanggalan masehi. Yaitu 365 hari selama 12 bulan atau satu tahun. 

Lalu ada konsep angka 19. Misal ada ayat ditulis "Di atasnya ada 19 (malaikat penjaga)" di surat Al Muddasir ayat 30. Lalu kalau dicocoklogi secara matematika, seperti kata basmallah yang terdiri dari 19 huruf bahasa arab, lalu Alquran terdiri dari 114 surah (6X19). Itu salah satu contoh, yang dijelaskan di dalam buku beliau.

Lalu saya juga tanya dengan beberapa senior yang pernah mengampu ilmu dengan sosok KH Sabranity. Misalnya Bang Safaruddin, mantan ketua GP Anshor. Beliau pernah cerita kalau dulu sering berdiskusi tentang keagamaan termasuk masalah organisasi dengan almarhum KH Sabranity. Bahkan sering meminta nasehat.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: