Bankaltimtara

Pertumbuhan Ekonomi RI 5,29 Persen, Pengamat Ingatkan Masih Ada Sinyal Negatif

Pertumbuhan Ekonomi RI 5,29 Persen, Pengamat Ingatkan Masih Ada Sinyal Negatif

Pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap berada di atas 5 persen.-Ilustrasi/Shutterstock-

JAKARTA, NOMORSATUKALTIM - Meskipun pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap berada di atas 5 persen, namun pengamat ekonomi mengingatkan masih adanya sinyal negatif di balik capaian tersebut.

Pakar Kebijakan Publik, Achmad Nur Hidayat dilansir Disway.id, Sabtu, 8 Agustus 2026 mengatakan, daya beli masyarakat belum sepenuhnya solid.

Dia menjelaskan, bahwa pertumbuhan ekonomi tidak cukup hanya dilihat dari kemampuan mempertahankan angka Produk Domestik Bruto (PDB) di atas 5 persen, namun perlu melihat seberapa besar dampaknya terhadap kesejahteraan masyarakat.

Menurut data Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), walaupun angka tingkat konsumsi rumah tangga yang meningkat sebanyak 5,06 persen di Kuartal-II 2026 ini, tingkat konsumsi rumah tangga justru melambat dari 5,52 persen pada Q1-2026 menjadi 5,06 persen pada Q2-2026.

Hal itu menunjukkan daya beli masyarakat belum sepenuhnya solid tanpa bantuan belanja APBN. "Ini artinya, daya beli masyarakat belum benar-benar kuat. Ketika pertumbuhan konsumsi melambat dari 5,52 persen menjadi sekitar 5,06 persen, dampaknya langsung terasa terhadap pertumbuhan nasional," ucap Achmad.

Penurunan tingkat konsumsi masyarakat sendiri juga merupakan sinyal negatif bagi pertumbuhan ekonomi negara. Hal itu dikarenakan konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang lebih dari separuh perekonomian Indonesia.

Menurut Achmad, kelompok miskin dan kelas menengah bawah menjadi pihak yang paling merasakan tekanan tersebut.

"Pertumbuhan ekonomi tetap terlihat baik secara agregat, tetapi tidak selalu identik dengan peningkatan kesejahteraan yang merata," jelasnya.

Di sisi lain, Achmad turut menyoroti tingkat investasi pada Triwulan-II, yang sebagian besar masih ditopang oleh pembangunan dan proyek yang berkaitan dengan program pemerintah.

"Belanja publik harus diarahkan pada kegiatan yang memperkuat kapasitas produksi, seperti infrastruktur logistik, ketahanan pangan, pendidikan, kesehatan, serta dukungan bagi UMKM dan industri padat karya," tegasnya.

Tanpa perbaikan struktur pertumbuhan, ungkap Achmad, angka ekonomi dapat tetap terlihat kuat, sementara manfaatnya belum sepenuhnya dirasakan oleh rakyat.

Sebelumnya, Kementerian Koordinator (Kemenko) Bidang Perekonomian turut menuturkan, bahwa perekonomian Indonesia masih tetap berada dalam kondisi solid di tengah-tengah volatilitas global.

Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menuturkan,Indonesia telah sukses mencatatkan pertumbuhan rata-rata di atas 3 persen.

"Seperti kita tahu 2 bulan ini tidak ada event besar seperti lebaran. Jadi angka 5,29 ini angka yang cukup baik," kata Airlangga.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: disway.id