Tiap Kali Turun Hujan, Warga Kampung Timur Selalu Waswas
Marno menatap perbukitan di belakang rumah yang nyaris longsor.-Michael Fredy Yacob-
BONTANG, NOMORSATUKALTIM - Ancaman tanah longsor di kawasan Kampung Timur, RT 01, Kelurahan Kanaan, masih terus membayangi. Alhasil, warga di sana tidak bisa tidur tenang ketika hujan mulai turun.
Longsor itu diakibatkan tambang pasir galian C yang ada tak jauh dari lokasi longsor tersebut. Tepatnya di Jalan Soekarno-Hatta. Berdasarkan informasi yang diterima warga, tambang itu diduga milik Daud Padang.
Marno, salah satu warga terdampak longsor tersebut mengatakan, kondisi itu sudah dialaminya sekitar satu tahun terakhir. Awalnya, memang di daerah itu rentan banjir. Tetapi, tidak terlalu parah. Namun, sekarang, sudah sangat parah.
“Saya ini orang pertama yang tinggal di gang ini. Sejak 2016 saya di sini. Awalnya aman-aman saja. Kalaupun banjir, hanya semata kaki. Karena memang di sini tidak ada drainase. Tapi, sekarang kalau sudah hujan, kami tidak bisa tidur,” katanya, Sabtu, 30 Mei 2026.
BACA JUGA: Debit Sungai Meluap, Banjir Rendam Permukiman Warga di Muara Wahau dan Kongbeng
BACA JUGA: Sungai Mahakam Jadi Dilema Bagi Masyarakat Mahulu, Wabup Tekankan 3 Poin Menghadapi Banjir
Banjir terparah adalah ketika perbukitan di sekitar rumahnya itu longsor pertama kali. Air dan pasir masuk ke rumahnya mencapai lutut orang dewasa. Kejadian itu dialaminya tahun lalu. “Itu karena tambang di galian C itu. Airnya lari ke kami,” tambahnya.
Ketika itu, rumah yang berada persis di samping tebing itu hancur tertimpa longsor. Kalau rumahnya, cukup jauh dari titik longsor. Sekitar 100 meter. Alhasil, ia hanya meninggikan lantai rumahnya. Tujuannya agar air tidak lagi masuk.
Ia mengenang masa-masa sebelum bukit di atas permukimannya dikeruk untuk aktivitas galian C. Meski hujan selebat apapun, wilayah mereka tetap aman.
Namun kini, setelah kontur tanah berubah dan vegetasi penahan hilang, air tak lagi terserap.
BACA JUGA: Banjir Rendam 9 Kampung di Tering Kutai Barat, Ribuan Warga Terdampak
BACA JUGA: Sedimentasi Parah jadi Penyebab Banjir di Jalan Gatot Subroto, PUPR Berau Mulai Normalisasi Drainase
Walau aktivitas pengerukan tanah di atas sana sudah dihentikan, luka pada lingkungan itu belum pulih. Tanah yang terbuka tanpa penahan menjadi sangat rapuh saat dihantam air hujan.
Tanpa sistem drainase yang memadai, air mencari jalannya sendiri.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

