Survei: 4,9 Persen Warga RI Mendukung Serangan AS dan Israel ke Iran, 4,5 Abstain
Rilis survei nasional legitimasi publik Indonesia atas perang Amerika-Israel dan Iran.-(Ist./ Dok. IPI)-
JAKARTA, NOMORSATUKALTIM — Di tengah dominasi penolakan publik terhadap konflik di Timur Tengah, survei nasional mencatat ada sebagian kecil masyarakat Indonesia yang menyatakan dukungan terhadap serangan militer Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran.
Berdasarkan hasil survei yang dilakukan Indikator Politik Indonesia (IPI), Lembaga survei Indonesia (LSI), dan Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) menunjukkan 4,9 persen responden menyatakan setuju dengan serangan tersebut.
Selain itu, 7,4 persen responden berada di posisi antara setuju dan tidak setuju, sementara 4,5 persen lainnya tidak memberikan jawaban (abstain).
Meski ada dukungan, angka tersebut jauh tertinggal dibandingkan sikap mayoritas publik.
BACA JUGA: Demo Besar ‘No King’ Guncang AS, Jutaan Warga Tuntut Pemecatan Donald Trump
BACA JUGA: Mojtaba Khamenei Kirim Pesan ke Naim Qassem, Tegaskan Dukungan Iran ke Hizbullah
Dalam survei yang sama, tercatat 83,1 persen masyarakat Indonesia menyatakan menolak serangan militer AS–Israel terhadap Iran.
Peneliti Utama Indikator Politik Indonesia, Burhanuddin Muhtadi, menyebut temuan ini menunjukkan legitimasi publik Indonesia terhadap perang tersebut sangat rendah.
“Dominasi penolakan mencerminkan sikap mayoritas warga yang tidak mendukung eskalasi konflik bersenjata di kawasan tersebut,” ujar Burhanuddin, dikutip dari keterangan resmi tertulis, pada Kamis (2/4/2026).
Survei ini mengangkat tema “Legitimasi Publik atas Perang AS–Israel dengan Iran” dan dipresentasika di Jakarta.
BACA JUGA: Kapal Malaysia dan Thailand Diizinkan Melintasi Selat Hormuz
BACA JUGA: Atasi Krisis Energi: Jepang Lepas Cadangan Minyak 80 Juta Barel, Korsel Batasi Pemakaian Kendaraan
Direktur Eksekutif SMRC, Deni Irvani, menjelaskan bahwa survei menyasar warga negara Indonesia berusia 17 tahun ke atas atau sudah menikah yang memiliki telepon seluler.
“Kelompok ini diperkirakan mencakup sekitar 80 persen populasi dan dinilai lebih terpapar informasi terkait isu global, termasuk konflik internasional,” ungkapnya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
