Pelestarian Sejarah Harus Jadi Fondasi Utama Pembangunan Gunung Tabur
Bupati Berau, Sri Juniarsih Mas saat menanggapi pertanyaan wartawan di kawasan Museum Gunung Tabur. -(Disway Kaltim/ Rizal)-
BERAU, NOMORSATUKALTIM - Gunung Tabur merupakan sebuah kecamatan dan kelurahan di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, yang terkenal sebagai pusat sejarah dan budaya melalui Museum Gunung Tabur (Keraton) serta Kesultanan Berau.
Kawasan ini dikenal memiliki ciri kesultanan dengan latar belakang kerajaan yang terbentuk pada awal abad ke-19, serta menyimpan sejarah panjang dan daya tarik budaya.
Kini dikembangkan menjadi destinasi wisata sejarah, budaya, dan kuliner terintegrasi dengan pemandangan sungai dan fasilitas baru.
Sehingganya, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau, menekankan pentingnya pelestarian sejarah dalam pembangunan Gunung Tabur.
BACA JUGA: Dinsos Berau Pastikan Lahan Sekolah Rakyat di Gunung Tabur Masuk Tahap Finalisasi
BACA JUGA: Jembatan Gunung Tabur Rampung, Kapal Penyeberangan Kian Sepi
Bupati Berau, Sri Juniarsih Mas menegaskan komitmen Pemkab Berau untuk membangun Gunung Tabur agar semakin maju pada tahun ini.
Pembangunan tersebut mencakup sektor pelestarian sejarah, penguatan ekonomi kreatif dan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM), pelayanan dasar hingga infrastruktur.
"Setiap kecamatan memiliki keunggulan masing-masing, termasuk Gunung Tabur yang masih menjaga tradisi kesultanan sebagai bentuk pelestarian budaya dan adat istiadat," ujar Bupati Sri Juniarsih, Minggu, 22 Februari 2026.
Ia mengungkapkan, bahwa Kesultanan Gunung Tabur terbentuk akibat pemecahan Kesultanan Berau pada masa Raja Berau ke-9 Aji Dilayas, yang membagi wilayah menjadi Gunung Tabur dan Sambaliung karena perselisihan tahta.
BACA JUGA: Disbudpar Berau Angkat Bicara soal Pembongkaran Panggung Pasar Barambang
BACA JUGA: Dianggap Ganggu Estetika Cagar Budaya, Pasar Barambang Berau Terpaksa Dihentikan Sementara
Dalam sejarahnya, Kesultanan Gunung Tabur pernah mengalami masa kejayaan dengan wilayah kekuasaan yang mencakup sebagian besar Kalimantan Utara hingga berbatasan dengan Brunei Darussalam.
"Pada masa Perang Dunia II, Istana Gunung Tabur sempat hancur akibat pengeboman Sekutu pada 1945," ungkapnya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
