Bankaltimtara

Bahaya Kebiasaan Membunyikan Leher, Dokter Ingatkan Risiko Cedera hingga Stroke

Bahaya Kebiasaan Membunyikan Leher, Dokter Ingatkan Risiko Cedera hingga Stroke

Bahaya Kebiasaan Membunyikan Leher, Dokter Ingatkan Risiko Cedera hingga Stroke.-istimewa-

NOMORSATUKALTIM Kebiasaan membunyikan leher kerap dilakukan sebagian orang untuk meredakan rasa kaku atau sebagai respons saat mengalami stres.

Meski memberi sensasi lega sesaat, tindakan ini jarang disadari berpotensi menimbulkan dampak jangka panjang yang serius, mulai dari cedera leher hingga risiko stroke.

Dilansir dari Antara, dokter spesialis Anestesiologi dan Pengobatan Nyeri Intervensional, Dr. Kunal Sood, MD, menjelaskan bahwa bunyi letupan yang terdengar saat leher dibunyikan sebenarnya tidak berbahaya secara langsung.

“Rasa lega sementara itu berasal dari peregangan sendi yang cepat dan pelepasan gelembung gas dalam cairan sinovial. Suara yang Anda dengar tidak berbahaya dengan sendirinya,” ujar Dr. Sood.

BACA JUGA:KKP Pastikan Tiga Pegawainya Jadi Korban Kecelakaan Pesawat IAT, Tengah Jalankan Misi Pengawasan Udara

Namun demikian, ia menekankan bahwa risiko utama justru muncul ketika leher berulang kali dipaksa bergerak melampaui batas rentang gerak alaminya.

Kebiasaan tersebut, jika dilakukan terus-menerus, dapat menyebabkan ligamen di area leher menjadi longgar dan mengurangi stabilitas tulang belakang servikal.

“Seiring waktu, kondisi ini dapat membuat tulang belakang leher menjadi kurang stabil, sehingga memungkinkan terjadinya gerakan yang tidak terkontrol, terutama saat putaran leher dilakukan secara tiba-tiba,” jelasnya.

Ketika stabilitas leher menurun, struktur penting di sekitarnya, termasuk pembuluh darah utama, menjadi lebih rentan mengalami gangguan.

BACA JUGA:3 Kampung Jadi Sentra Pengembangan Hilirisasi Kakao Berau, Kerja Sama Disbun dan Diskoperindag

Dr. Sood mengingatkan bahwa gerakan leher yang tajam atau terlalu kuat dapat memberikan tekanan geser yang tidak normal pada arteri vertebralis dan arteri karotis yang melintas di area leher.

“Gerakan leher yang keras dapat memberi tekanan berlebihan pada arteri-arteri tersebut,” katanya.

Dalam kasus tertentu yang tergolong jarang, tekanan ini dapat memicu robekan pada lapisan dalam arteri, yang dikenal sebagai diseksi arteri servikal.

Kondisi tersebut berpotensi menyebabkan penumpukan darah di area robekan, membentuk gumpalan, dan jika terbawa aliran darah ke otak, dapat menghambat suplai oksigen serta memicu stroke.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: