Bankaltimtara

DBD di Paser 2025 Capai 243 Kasus, Tren Naik Hingga Pertengahan Tahun

DBD di Paser 2025 Capai 243 Kasus, Tren Naik Hingga Pertengahan Tahun

Kasus DBD di Paser 2025 capai 243 kasus.-Ilustrasi/Istimewa-

PASER, NOMORSATUKALTIM - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Paser mencatat jumlah positif Demam Berdarah Dengue (DBD) sepanjang 2025 mencapai 243 kasus.

Dari ratusan kasus DBD yang terjadi periode Januari-Desember 2025 tersebut, mengalami lonjakan kasus di pertengahan tahun, yakni Mei sebanyak 40 kasus dan Juni sebanyak 51 kasus.

Puncak kenaikan kasus DBD hanya terjadi sampai dengan Juni, kemudian kasusnya mengalami penurunan signifikan hingga akhir tahun.

Berdasarkan sebaran per wilayah, DBD paling banyak ditangani oleh Puskesmas Suliliran Baru di Kecamatan Paser Belengkong sebanyak 79 kasus, kemudian di Puskesmas Tanah Grogot, Kecamatan Tanah Grogot sebanyak 46 kasus.

BACA JUGA: 2 Anak di PPU Meninggal Dunia Akibat DBD

Terjadinya kenaikan tren kasus DBD membuat pemerintah daerah sempat mengeluarkan surat edaran imbauan waspada DBD yang ditujukan ke seluruh kecamatan.

"Kami telah menyampaikan surat imbauan dari Sekda pada saat tren naik, untuk sekarang kami masih menyurati ke masing-masing Puskesmas supaya waspada terhadap DBD," kata Amri Yulihardi, Rabu 7 Januari 2026.

Upaya yang dilakukan Dinkes Paser berupa imbauan gotong royong kepada masyarakat melalui gerakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) lewat tindakan 3 M (menguras, menutup, dan mengubur).

Menurutnya, upaya pencegahan penyakit DBD perlu kesadaran bersama, terutama membasmi tumpukan sampah yang dapat menyebabkan terjadinya genangan air hingga akhirnya bisa menimbulkan sarang nyamuk.

BACA JUGA: Kasus DBD di Kubar Menurun, Tapi Dinkes Ingatkan Warga Tetap Siaga

Faktor cuaca seperti musim hujan dianggap bukan satu-satunya faktor yang  menjadi pemicu munculnya sarang nyamuk karena menimbulkan genangan air.

"Mungkin juga dari penampungan air warga yang tidak tertutup, jadi bukan hanya cuaca, tapi bisa dari perilaku kita yang menyebabkan genangan air," ujarnya.

Terkait fogging, tetap dilaksanakan apabila terdapat wilayah yang ditemukan kasus DBD, minimal 2 orang terindikasi DBD.

Hanya saja fogging dianggap tidak efektif, karena hanya dapat mematikan nyamuk sesaat, tidak memberantas langsung dari sumbernya atau jentik nyamuk.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: