Bankaltimtara

Miris, Kasus Bunuh Diri oleh Remaja Makin Marak Terjadi, Apa Penyebabnya?

Miris, Kasus Bunuh Diri oleh Remaja Makin Marak Terjadi, Apa Penyebabnya?

Ilustrasi bunuh diri-freepik-

Beberapa orang tua, ungkapnya, mendidik anak-anak mereka tanpa mengajarkan nilai-nilai pentingnya sebuah proses dan usaha.

Orang tua bahkan ada yang ingin agar anaknya tidak mengalami kesulitan dalam hidupnya. Sehingga tidak membiasakan anak-anak mereka mengatasi atau memecahkan masalahnya sendiri.

"Jadi anak-anak ini tidak dibekali dengan baik bagaimana dia harus menyelesaikan masalahnya. Sehingga dilakukan lah, menyelesaikan masalah dengan cara yang lebih cepat yaitu bunuh diri."

Lingkungan dan media sosial

Perkembangan teknologi yang pesat dan pengaruh media sosial, kata Aully, mau tidak mau turut memengaruhi kepribadian anak-anak atau remaja saat ini.

Kemudahan memperoleh sesuatu tanpa diimbangi didikan soal pentingnya kerja keras membuat mental mereka rapuh.

"Generasi Z dan Alpha ini sangat berbeda dengan generasi Milenial atau X. Di mana ketika generasi Milenial kalau punya masalah, mereka harus mengupayakan suatu tindakan untuk bisa mendapatkan sesuatu," jelas Aully Grashinta.

"Tapi karena teknologi, kecepatan informasi, kemudahan dalam mendapatkan sesuatu, pola itu berubah. Generasi Z dan Alpha menjadi impulsif. Ketika tidak mendapatkan apa yang diharapkan mudah kecewa."

"Ini yang membuat mereka, sekarang, secara kesehatan mental tidak tangguh, tidak kuat, yang akhirnya bukan mencari solusi positif tapi lebih kepada hal-hal yang negatif, menyakiti diri sendiri," paparnya.

Kondisi itu diperparah oleh gampangnya akses atau tayangan bermuatan bunuh diri. Entah di media sosial atau media konvensional, tanpa dibarengi oleh edukasi dan pemahaman yang utuh bahwa tindakan tersebut bukanlah solusi yang tepat juga cepat dari pemecahan masalah.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait