Bankaltimtara

Cuaca Panas Kalimantan Timur Bukan karena Badai Wipha, Ini Penjelasan Ilmiah BMKG

Cuaca Panas Kalimantan Timur Bukan karena Badai Wipha, Ini Penjelasan Ilmiah BMKG

Pola angin 3.000 kaki menurut BMKG per 22 Juli 2025. Terlihat bibit siklon "97W" dan angin monsun Australia membawa udara kering ke Kalimantan Timur.-(Istimewa/ BMKG)-

BALIKPAPAN, NOMORSATUKALTIM - Suhu panas dan angin kering yang melanda sejumlah wilayah Kalimantan Timur (Kaltim), termasuk Balikpapan dalam beberapa hari terakhir memunculkan spekulasi dari masyarakat. 

Sejumlah warga menduga kondisi ekstrem ini disebabkan oleh badai Wipha yang terjadi di utara Filipina. 

Namun, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan bahwa badai tersebut tidak lagi berdampak terhadap cuaca di Kaltim

Kepala Stasiun Meteorologi SAMS Sepinggan Balikpapan, Kukuh Ribudiyanto, menjelaskan bahwa saat ini sebagian wilayah Kaltim memang telah memasuki musim kemarau. 

BACA JUGA: Fenomena Aphelion Bukan Penyebab Suhu Ekstrem, Ini Penjelasan BMKG Balikpapan

BACA JUGA: Kenapa Akhir-akhir Ini Suhu Udara di Balikpapan Terasa Gerah? BMKG Punya Jawabannya

Puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus hingga September mendatang.

"Salah satu penyebab berkurangnya curah hujan di Kalimantan Timur adalah keberadaan siklon tropis di utara Indonesia, yang lazim muncul antara Juli hingga Desember," kata Kukuh, pada Senin, 21 Juli 2025.

Meski demikian, menurutnya, Siklon Tropis Wipha yang sempat muncul di wilayah utara Filipina kini telah melemah dan bahkan mulai bergerak masuk ke daratan. 

Saat ini justru muncul bibit siklon tropis baru di utara Papua, tepatnya di sebelah timur Filipina. 

BACA JUGA: Pusaran Air di Teluk Balikpapan Dikonfirmasi sebagai Waterspout, BMKG: Waspada Cuaca Ekstrem!

BACA JUGA: Ramalan Cuaca Kaltim dan IKN, 22 Juli 2025, Waspada Hujan Petir di Wilayah Berikut Ini!

Namun, keduanya tidak berdampak langsung terhadap cuaca di Balikpapan.

"Cuaca panas di Balikpapan lebih disebabkan oleh minimnya pertumbuhan awan serta pengaruh angin monsun Australia yang membawa udara kering," terangnya.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: