Belajar dari Insiden 'Bus Maut' di Subang, KNKT Sentil Sekolah dan Pelaku Wisata

Belajar dari Insiden 'Bus Maut' di Subang, KNKT Sentil Sekolah dan Pelaku Wisata

Foto dokumentasi penumpang bus Pariwisata Putera Fajar sebelum kecelakaan di Subang, Jawa Barat.-(Istimewa)-

BALIKPAPAN, NOMORSATUKALTIM - Bus yang mengangkut rombongan pelajar SMK Lingga Kencana, Depok mengalami kecelakaan di Ciater, Subang, Jawa Barat pada Sabtu (11/5/2024). 11 orang meninggal dunia, terdiri dari 10 siswa dan 1 orang guru.

Atas insiden ini, Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menyentil pihak sekolah dan publik pelaku perjalanan wisata.

KNKT meminta sekolah maupun publik menyusun rencana perjalanan wisata yang baik agar peristiwa serupa tidak terulang. Rencana yang baik ini, di antaranya juga mengatur waktu istirahat pengemudi bus wisata.

BACA JUGA: Tak Kuat Menanjak, Bus Pariwisata Berpenumpang 20 Orang Terguling di Paser

"Jangan memacu pengemudi bus wisata untuk berkendara sepanjang hari sepanjang malam," kata Ahmad Wildan selaku Investigator Senior KNKT, dikutip dari Antara, Senin (13/5/2024).

Wildan mengingatkan, pengemudi hendaknya tidak dipaksa berkendara selama 12 jam tanpa istirahat.

"Jangan memaksa pengemudi untuk menyetir lebih dari 12 jam. Jangan sampai kita membuat rencana perjalanan siang berwisata dan malamnya dipaksa untuk melakukan perjalanan, ini tidak boleh. Malam hari pengemudi bus wisata harus beristirahat atau tidur," katanya.

BACA JUGA: Pengunjung Danau Telaga Biru Tewas Usai Berupaya Menyelamatkan Teman yang Tenggelam

Selain itu, kata Wildan, penyewa bus pariwisata berkewajiban menyediakan tempat tidur yang layak bagi sopir bus. 

"Siapkan ruangan atau kamar bagi pengemudi untuk beristirahat. Jangan biarkan pengemudi tidur di dalam bus atau kendaraan, hal ini nantinya dapat memicu kelelahan bagi pengemudi sehingga akan berisiko pada keselamatan para penumpang," tegasnya.

Ia melanjutkan, resiko kecelakaan dapat terjadi jika sopir mengalami kelelahan. Apalagi perjalanan wisata biasanya berlangsung dalam beberapa hari.

BACA JUGA: Masyarakat Diminta Berperan Aktif Dalam Setiap Event Budaya dan Pariwisata  

Yang selama ini terjadi, umumnya pelaku wisata memadatkan kegiatan agar dapat mengunjungi banyak tempat wisata tanpa memperhatikan kondisi sopir.

"Maunya penyewa mereka bayar bus wisata selama tiga dan banyak-banyakin obyek wisata. Mereka lupa bahwa bus wisata yang mereka sewa dibawa oleh seorang pengemudi yang harus membutuhkan istirahat cukup," katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: