Tak Maksimal

TANJUNG SELOR, DISWAY – Laboratorium Container Biosafety Level-2 milik Pemprov Kaltara, belum berfungsi maksimal, untuk uji swab polymerase chain reaction (PCR). Dinas Kesehatan Bulungan pun, harus mengirim sampel swab ke Surabaya dan Tarakan.
Kepala Dinas Kesehatan Kaltara, Usman yang dikonfirmasi, mengatakan pihaknya tidak dapat memaksakan diri untuk menerima semua sampel dari Dinas Kesehatan Bulungan. Karena menurutnya, jika itu dilakukan akan berdampak pada kondisi kesehatan petugas di laboratorium. “SDM (sumber daya manusia) kita memang belum mencukupi untuk menerima semua. Kami batasi hanya 100 sampel. Itu juga selesai dua sampai tiga hari,” ujar Usman, Selasa (16/2). Selain SDM yang terbatas, laboratorium yang dibeli seharga Rp 20 miliar itu, diakuinya sempat rusak. Akibat listrik yang sering turun naik. Saat itu, kata Usman, hampir seluruh sampel dikirim keluar Bulungan. Seperti Tarakan, Surabaya, dan Berau. “Kalau tenaga lab-nya mencukupi, tentu semua sampel dari Bulungan kami tampung. Bahkan, yang dari KTT atau Malinau bisa kami tangani. Tetapi persoalannya tidak semudah itu,” ujarnya. Saat ini, lanjutnya, Dinas Kesehatan Kaltara mengusulkan penambahan pegawai yang akan bertugas di Laboratorium Container Biosafety Level-2. Mengingat penyebaran virus Corona semakin tak terkendali. Utamanya dari transmisi lokal. “Kami harap (usulan tambahan SDM, Red) ini akan menjadi salah satu prioritas, agar kita tidak lagi kirim sampel ke luar Kaltara. Sehingga, pemeriksaan semakin cepat,” ujarnya. Dikutip dari laman Humas Pemprov Kaltara, Laboratorium Container Biosafety Level-2 milik Pemprov Kaltara, mampu memeriksa sebanyak 140 running test per 4 hingga 5 jam. Selain berfungsi untuk pemeriksanaan sampel COVID-19, lab juga dapat digunakan untuk pemeriksaan penyakit menular lain. Seperti TBC, HIV, typoid, hepatitis, dan DBD. Dan, hasilnya dapat diketahui dalam kurun waktu 2 jam. *Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: