Bankaltimtara

Waspada! Jangan Sembarangan Pakai Obat Mata Steroid, Bisa Picu Katarak

Waspada! Jangan Sembarangan Pakai Obat Mata Steroid, Bisa Picu Katarak

Ilustrasi pemakaian obat mata tetes.-istimewa-

JAKARTA, NOMORSATUKALTIM – Penggunaan obat tetes mata yang tidak tepat, terutama yang mengandung steroid, dapat memicu gangguan serius seperti katarak.

Hal ini diungkapkan dr Amir Shidi, dokter spesialis mata subspesialis katarak dan bedah refraksi.

Katarak merupakan kondisi ketika lensa mata kehilangan kejernihannya sehingga menyebabkan gangguan penglihatan.

Penyakit ini umumnya berkembang secara perlahan dan pada tahap awal sering kali tidak menimbulkan keluhan yang signifikan.

BACA JUGA: Dokter Kulit Ingatkan Bahaya Baju Thrifting Tak Dicuci, Risiko Infeksi hingga Iritasi Mengintai

"Obat steroid memang enak buat (mengobati mata) gatal. Tetapi bikin glaukoma dan katarak,” kata dr Amir dikutip dari Antara, Sabtu, 11 April 2026.

Anak-anak, khususnya di bawah usia 15 tahun, kata dr Amir, menjadi kelompok yang rentan mengalami alergi. alergi ini umumnya dapat dipicu berbagai faktor, seperti debu, susu, hingga lingkungan.

Alergi yang ditandai dengan gejala mata gatal atau merah kerap membuat seseorang menggunakan obat tetes mata tanpa konsultasi dokter.

Nah, kebiasaan ini berisiko menyebabkan penyalahgunaan obat tetes mata berbahan steroid yang dapat menimbulkan efek samping serius.

BACA JUGA: Berat Badan Berlebih dan Rokok Jadi Pemicu Utama GERD, Dokter Ungkap Gaya Hidup Penyebab Asam Lambung Naik

Dokter Amir menjelaskan, bahwa obat mata steroid itu efek sampingnya tekanan bola mata naik dan katarak lebih cepat.

Dia menyarankan, jika anak atau orang dewasa mengalami keluhan seperti mata merah atau sering mengucek mata, sebaiknya segera memeriksakan diri ke dokter.

Hal itu untuk memastikan dengan tepat apakah keluhan tersebut disebabkan oleh mata kering atau reaksi alergi.

Terlebih ketika mata merah tidak kunjung membaik dalam satu hingga dua hari. "Mata merah itu tanda inflamasi. Pada saat itulah kita butuh antibiotik, tetapi harus dalam pengawasan dokter," pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: antara