Menjadi Ibu di Ruang Redaksi
Chandra Ismi-Dok Pribadi-
Mendalami berkas, mengikuti proses hukum, hingga menyerap kisah-kisah dibalik layar yang pembaca tak mengetahui, membuat saya berada dalam tekanan psikologis yang tidak ringan.
Hingga pada satu ketika, tubuh pun memberi sinyal, melalui flek yang tiba-tiba muncul. Pada waktu itu, saya berpikir, apakah ini adalah sebuah pengingat, jika ada batas yang tidak selalu terlihat dalam profesi ini.
Dunia jurnalistik tidak mengenal kata ideal timing. Kala usia kehamilan sekitar 30 minggu atau tujuh bulan, menjelang cuti melahirkan, saya kembali dihadapkan pada peristiwa besar: tenggelamnya sebuah kapal feri rute Balikpapan - Penajam Paser Utara (PPU) di perairan Teluk Balikpapan, yakni KMP Mukhlisa.
Dengan kondisi fisik yang semakin terbatas, saya tetap berada di lapangan, menunggu di Pelabuhan Kariangau, mengikuti perkembangan, hingga menanti hasil pemeriksaan forensik para korban meninggal di RS Bhayangkara Balikpapan.
Momen-momen itu pun akan selalu saya jadikan pengingat, bahwa menjadi ibu di ruang redaksi bukan berarti menurunkan standar profesionalisme.
Justru sebaliknya, ia menegaskan bahwa perempuan mampu hadir utuh sebagai pekerja, sekaligus sebagai manusia yang memiliki empati, batas, dan tanggung jawab personal.
Tidak ada pelatihan resmi tentang bagaimana menjadi ibu di ruang redaksi. Semua berjalan sambil belajar, sambil bertahan, sambil menegosiasikan batas antara pekerjaan dan kehidupan personal.
Dalam proses itu pun saya menyadari satu hal, bahwa stigma terhadap perempuan bekerja bukan terletak pada kemampuan, melainkan pada cara sistem memandang peran mereka.
Jika dunia kerja ingin tetap relevan dengan realitas sosial hari ini, maka ia perlu belajar satu hal sederhana, melihat perempuan bukan dari statusnya, tetapi dari kapasitasnya. (*)
*) Penulis adalah jurnalis Disway Kaltim/Nomorsatukaltim
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

