200 Kapal Melintas Tiap Hari, Pelindo Perkuat Investasi Keselamatan di Sungai Mahakam
Aktivitas kapal pandu di sungai Mahakam.-Mayang/Disway Kaltim-
SAMARINDA, NOMORSATUKALTIM - Aktivitas lalu lintas kapal di Sungai Mahakam semakin padat dari waktu ke waktu. Setiap hari, sebanyak 200 kapal wajib pandu melintas di jalur utama melewati lima jembatan besar. Yakni Jembatan Mahulu, Mahakam, Mahkota, Martapura, dan Tenggarong.
Padatnya lalu lintas ini membuat aspek keselamatan pelayaran menjadi perhatian utama PT Pelindo Jasa Maritim, Subholding Pelindo Regional IV.
Senior Manager Wilayah IV Subholding PT Pelindo Jasa Maritim, Capt. Al Albar, menjelaskan bahwa dari total pergerakan tersebut, kapal yang naik biasanya dalam keadaan kosong. Sementara kapal yang turun umumnya bermuatan penuh.
"Kalau dihitung rata-rata, ada 40 kapal per jembatan setiap harinya. Jadi total sekitar 200 kapal naik-turun di Mahakam," kata Captain Al Albar belum lama ini.
Menurutnya, kondisi ini membuat peran pandu sangat krusial.
Saat ini, Pelindo memiliki 28 orang pandu yang bergantian bertugas, dibantu tiga unit kapal tunda yang selalu siaga 24 jam.
Kapal tunda itu terdiri dari kapal towing, assist tug, dan escort tug yang berfungsi mengawal tongkang agar tidak menabrak pilar jembatan.
"Fungsi pandu itu pertama-tama soal keselamatan. Sekecil apapun ancaman bahaya harus segera diingatkan. Misalnya, ada kapal yang jaraknya terlalu rapat, pandu langsung memberi peringatan lewat radio agar menjaga jarak," jelasnya.
Peran Pandu di Jalur Sungai Mahakam
Capt. Al Albar menegaskan, setiap kapal yang melintas di Sungai Mahakam tidak bisa sembarangan.
Pandu harus memastikan manuver kapal sesuai prosedur agar tidak menimbulkan bahaya, apalagi ketika melewati jembatan.
"Kalau kapal kosong yang naik mungkin relatif lebih ringan. Tapi kapal yang turun umumnya bermuatan penuh, ada yang bawa batubara, ada juga CPO. Nah, kalau sampai salah olah gerak di bawah jembatan, risikonya bisa fatal. Karena itu, pandu selalu naik ke kapal untuk memberikan arahan langsung," kata Albar.
Ia juga mengakui bahwa pengaturan waktu pemanduan di Mahakam sangat dipengaruhi kondisi alam. Kapal yang turun diarahkan melintas saat air pasang agar tidak kandas.
"Kalau di jembatan lain bisa anytime, tapi khusus Mahakam harus diatur jamnya. Sungai ini sempit, arusnya deras, jadi kita benar-benar harus hitung momen yang tepat," tambahnya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

