Dexlite Naik dan Solar Subsidi Terbatas Bebani Petani Balikpapan Timur
Agus, petani di Balikpapan saat mengoperasikan traktor di lahan pertaniannya.-istimewa-
BALIKPAPAN, NOMORSATUKALTIM — Setelah kenaikan Harga Bahan Bakar Minyak (BBM) mulai 18 April 2026, untuk beberapa jenis seperti dexlite yang semula Rp14.200 menjadi Rp23.600 berdampak pada sektor pertanian di Balikpapan.
Petani hortikultura kawasan Gunung Binjai, Teritip, Balikpapan Timur, petani, Agus (36), merasakan dampaknya secara nyata saat mengelola lahan seluas 3 hektare.
“Sekarang Rp100 ribu itu cuma dapat 4 liter lebih sedikit. Dipakai kerja saja tidak sampai satu hari penuh,” ujar Agus, Selasa, 21 April 2026.
Ia menegaskan, kebutuhan bahan bakar untuk operasional traktor tidak bisa ditekan. Dalam sehari, mesin tetap membutuhkan sekitar 5 hingga 10 liter, terlepas dari mahalnya harga BBM. Artinya, satu-satunya opsi yang tersisa hanyalah menambah modal.
BACA JUGA: Akhirnya! Harga BBM Naik Per 18 April 2026, Pertamax Turbo Tembus Rp19.850 Per Liter
BACA JUGA: Harga BBM Non-Subsidi Terus Merangkak Naik, Permintaan Konsumen Belum Turun
“Mesin tetap makan solar dengan jumlah yang sama, tidak jadi lebih irit. Mau tidak mau, kami harus keluar uang lebih banyak,” katanya.
Kondisi ini semakin berat karena harga jual hasil pertanian tidak ikut naik. Komoditas seperti cabai, melon, dan sayuran memiliki masa simpan yang singkat, sehingga petani tidak punya ruang untuk menahan barang atau memainkan harga.
“Kalau barang sembako mungkin bisa ditahan atau ditimbun. Kalau di pertanian tidak bisa. Barang banyak, ya harga pasti murah. Kami harus cepat jual karena kalau disimpan ya busuk,” jelas Agus.
Situasi tersebut membuat margin keuntungan petani terus tergerus. Agus mengaku, penghasilan yang didapat selama ini hampir seluruhnya kembali diputar untuk menutup biaya produksi, tanpa menyisakan keuntungan yang signifikan.
BACA JUGA: Tak Miliki Fasilitas Penyimpanan dan Pengolahan, Titik Kritis Pertanian Balikpapan Ada di Pascapanen
BACA JUGA: Harga Pangan dan BBM Dorong Inflasi Balikpapan, BI Warning Risiko Kemarau Panjang
Di sisi lain, persoalan distribusi BBM turut memperparah keadaan. Agus menilai akses terhadap solar subsidi di Balikpapan tidak merata, khususnya di wilayah Balikpapan Timur.
Dari Sepinggan hingga perbatasan Kutai Kartanegara, SPBU disebut sudah lama tidak menyediakan solar subsidi. Akibatnya, petani seperti Agus terpaksa beralih ke dexlite yang jauh lebih mahal.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
