Data dari Dinas Perdagangan Balikpapan menunjukkan, produk non-migas dari Kaltim diminati oleh 24 negara. Salah satunya Tiongkok. Yang masih mendominasi pasar ekspor sepanjang awal tahun ini. Hasil ekspor non-migas ke Tiongkok mencapai US$ 298,612 juta. Diikuti oleh India dengan nilai US$ 264,271 juta. Kemudian Filipina sebesar US$ 123,324 juta. Terhitung hingga April, hasil ekspor non-migas Kaltim mencapai US$ 1,057 miliar.
Hal ini dapat menjadi fokus pemerintah Kaltim. Agar tidak selalu bergantung terhadap sumber daya migas. Melainkan dapat mengelola sumber daya non-migas. Komoditas kelapa sawit dapat dijadikan fokus pemerintah untuk mengelolanya dengan cara yang lebih baik lagi. Karena kelapa sawit di Kaltim memiliki prospek yang cukup cerah sebagai sumber pendapatan daerah. Minyak kelapa sawit yang merupakan bahan baku utama minyak goreng di seluruh dunia dapat juga dijadikan peluang untuk menciptakan lapangan pekerjaan yang luas. Demi meningkatkan perekonomian daerah.
Oleh karena itu, untuk memperbaiki perekonomian Kaltim yang terhambat di masa pandemi COVID-19, pemerintah dapat mengembangkan potensi-potensi yang kurang diperhatikan. Yang mungkin saja dapat menyejahterakan masyarakat Kaltim. (*Pengamat Ekonomi Kaltim)