SAMARINDA, NOMORSATUKALTIM – Sebanyak 770 kasus baru hepatitis B ditemukan di Kalimantan Timur (Kaltim) pada semester I 2026. Temuan ini menjadi pengingat pentingnya deteksi dini dan pencegahan penularan virus yang dapat menyebabkan kerusakan hati serius, bahkan permanen.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kaltim mengingatkan masyarakat agar mewaspadai infeksi virus hepatitis B, baik dalam fase akut maupun kronis.
Keduanya dapat berdampak terhadap kesehatan hati apabila tidak ditangani dengan tepat.
Kepala Dinkes Kaltim, Andi Muhammad Ishak mengatakan, hepatitis B merupakan infeksi yang menyerang organ hati dan berisiko memicu kerusakan jaringan jika penanganannya terlambat.
“Hepatitis B merupakan infeksi organ hati yang berisiko memicu kerusakan jaringan secara serius apabila tidak ditangani tepat,” katanya, dikutip dari Antara pada Minggu 25 Oktober 2026.
Hepatitis B akut merupakan infeksi jangka pendek, sedangkan hepatitis B kronis berlangsung dalam jangka panjang dan berpotensi menyebabkan kerusakan hati secara permanen.
Karena itu, masyarakat perlu memahami jalur penularan sekaligus mengenali gejalanya sejak dini.
Penularan virus hepatitis B atau HBV dapat terjadi melalui paparan darah yang terinfeksi.
Beberapa faktor risikonya meliputi penggunaan jarum suntik secara bergantian serta penggunaan peralatan tato yang tidak steril.
Penularan juga dapat terjadi dari ibu yang terinfeksi kepada bayinya saat persalinan. Selain itu, hubungan seksual tanpa pengaman dengan orang yang terinfeksi turut meningkatkan risiko penularan.
Penggunaan barang pribadi secara bergantian juga perlu dihindari, terutama benda yang berpotensi terkontaminasi darah, seperti sikat gigi, pisau cukur, dan gunting kuku.
Andi mengingatkan bahwa infeksi hepatitis B tidak selalu menunjukkan gejala pada tahap awal. Kondisi ini membuat sebagian orang tidak menyadari dirinya telah terinfeksi dan berpotensi menularkan virus kepada orang lain.
“Meskipun sebagian penderita tidak mengalami keluhan awal, masyarakat perlu mewaspadai munculnya tanda-tanda klinis infeksi hati,” tuturnya.
Gejala hepatitis B dapat berupa mual, muntah, penurunan nafsu makan, dan demam ringan. Gejala lainnya meliputi nyeri di bagian kanan atas perut, perubahan warna kulit dan bagian putih mata menjadi kuning, serta urine berwarna gelap.
Meski demikian, ketiadaan gejala tidak serta-merta menandakan seseorang terbebas dari infeksi. Pemeriksaan darah menjadi salah satu langkah penting untuk mengetahui status infeksi, terutama bagi masyarakat yang memiliki faktor risiko.