Bankaltimtara

Kualitas Udara Samarinda masih Fluktuatif, Periode 1–19 Oktober 2026 ISPA Capai 8.193 Kasus

Kualitas Udara Samarinda masih Fluktuatif, Periode 1–19 Oktober 2026 ISPA Capai 8.193 Kasus

Kualitas udara di Kota Samarinda masih fluktuatif.-Mayang Sari/ Nomorsatukaltim-

SAMARINDA, NOMORSATUKALTIM- Konsentrasi partikel halus PM2.5 di Samarinda sempat mencapai 216 mikrogram per meter kubik pada Minggu, 25 Oktober 2026 pukul 09.00 Wita.

Berdasarkan data historis pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), angka tersebut berada dalam kategori sangat tidak sehat.

Menjelang sore, konsentrasinya turun menjadi 41,3 mikrogram per meter kubik pada pukul 17.00 Wita atau masuk kategori sedang.

Perubahan itu terjadi setelah hujan mengguyur sejumlah wilayah Samarinda pada siang hari.

BACA JUGA: Luas Karhutla Samarinda Tembus 747 Hektare, Tanggap Darurat Diperpanjang hingga 16 November

Meski demikian, penurunan konsentrasi PM2.5 tidak dapat dipastikan hanya disebabkan oleh hujan karena kondisi angin, sumber emisi, dan faktor cuaca lainnya juga dapat memengaruhi kualitas udara.

Data BMKG menunjukkan konsentrasi PM2.5 masih berada pada tingkat tidak sehat sejak pagi. Pada pukul 15.00 Wita, angkanya tercatat 60,2 mikrogram per meter kubik, kemudian turun menjadi 41,3 mikrogram per meter kubik dua jam berikutnya.

PM2.5 merupakan partikel polutan berukuran sangat kecil yang dapat masuk jauh ke saluran pernapasan.

Paparan dalam konsentrasi tinggi berisiko mengganggu kesehatan, terutama bagi anak-anak, lansia, serta masyarakat yang memiliki penyakit pernapasan atau jantung.

BACA JUGA: Dugaan Kematian Balita di Bukuan Akibat Asap Jadi Sorotan, Dinkes Samarinda Ungkap Hasil Penelusuran

Kepala Dinas Kesehatan Samarinda, Ismed Kusasih, sebelumnya mengingatkan masyarakat agar memperhatikan kondisi kualitas udara dan mengurangi paparan ketika konsentrasi polutan meningkat.

“Perubahan kualitas udara perlu menjadi perhatian bersama. Ketika konsentrasi PM2.5 meningkat, masyarakat harus mengurangi paparan dan tidak memaksakan aktivitas di luar ruangan,” kata Ismed.

Ia juga mengingatkan kelompok rentan agar lebih berhati-hati ketika kualitas udara memburuk. Anak-anak, lansia, dan warga dengan gangguan pernapasan perlu membatasi aktivitas di luar ruangan untuk mengurangi risiko paparan polutan.

Di tengah perubahan kualitas udara tersebut, kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Samarinda masih menjadi perhatian. Dinas Kesehatan mencatat 8.193 kasus selama periode 1–19 Oktober 2026.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait