JAKARTA, NOMORSATUKALTIM – Cadangan devisa Indonesia pada akhir September 2026 tercatat sebesar US$146,3 miliar. Angka ini turun tipis dibandingkan posisi pada akhir Agustus 2026 yang mencapai US$146,5 miliar.
Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI), Ramdan Denny Prakoso mengatakan posisi cadangan devisa tersebut masih relatif stabil.
"(Posisi) relatif stabil apabila dibandingkan dengan posisi pada akhir Agustus 2026, yang berjumlah sebesar 146,5 miliar dolar AS," jelas Ramdan kepada media secara daring, Rabu, 7 Oktober 2026.
Ramdan menjelaskan perkembangan cadangan devisa pada September 2026 terutama dipengaruhi penarikan pinjaman luar negeri pemerintah serta penerimaan pajak dan jasa.
BACA JUGA: Pertamina Catat Konsumsi Pertamax Turun 21,9 Persen di Kaltim, Dexlite Anjlok 39,5 Persen
BACA JUGA: BI Catat Kredit Kaltim Tumbuh 22,8 Persen, Tembus Rp223,17 Triliun
Perkembangan tersebut juga berkaitan dengan kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah yang ditempuh BI.
"Bank Indonesia menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal, serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan," ucap Ramdan.
Lebih lanjut, posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir September 2026 disebut setara dengan pembiayaan 5,3 bulan impor atau 5,2 bulan impor jika turut memperhitungkan pembayaran utang luar negeri pemerintah.
Angka tersebut berada di atas standar kecukupan internasional yang umumnya sekitar tiga bulan impor.
BACA JUGA: Pemerintah Siapkan Aturan 'Daur Ulang' Rumah Kredit Macet untuk MBR
BACA JUGA: Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Ditanggung APBN, Tembus Rp8,3 Juta per Bulan
BI menilai kondisi tersebut menunjukkan ketahanan sektor eksternal Indonesia masih terjaga. Hal itu turut didukung oleh posisi cadangan devisa yang memadai dan aliran masuk modal asing sejalan dengan persepsi positif investor terhadap prospek perekonomian.
"Kami akan terus meningkatkan sinergi dengan Pemerintah dalam memperkuat ketahanan eksternal guna menjaga stabilitas perekonomian," tutup Ramdan.