BALIKPAPAN, NOMORSATUKALTIM.COM – Sekretaris Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Kalimantan Timur, Aji Syahdu G Citra menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah, pengusaha, pekerja, lembaga pendidikan dan pelatihan untuk memperkuat ketahanan dunia usaha.
Pesan tersebut disampaikan Aji Syahdu saat membuka Rapat Kerja dan Konferensi Provinsi (Rakerkonprov) APINDO Kalimantan Timur 2026 yang mengusung tema “Membangun Resiliensi Dunia Usaha dan Harmonisasi Hubungan Industrial Kaltim.”
Rakerkonprov dihadiri perwakilan dari delapan Dewan Pimpinaan Kabupaten/ Kota se-Kalimantan Timur, Jumat (2/10/2026).
Aji Syahdu mengatakan, dunia usaha tidak dapat membangun ketahanan hanya dengan mengandalkan kekuatan pengusaha. Kolaborasi seluruh pemangku kepentingan menjadi kunci agar aktivitas ekonomi tetap berjalan, investasi berkembang dan lapangan kerja tersedia.
BACA JUGA: Di Forum Bincang Ekonomi BI Sulut, Dahlan Iskan Dorong Pengusaha Lokal Berani Berinovasi
“Ketahanan dunia usaha tidak dapat dibangun hanya oleh pengusaha sendiri. Dibutuhkan sinergi antara pemerintah, dunia usaha, pekerja, buruh, lembaga pendidikan dan pelatihan, serta seluruh lembaga kepentingan ketenagakerjaan,” kata Aji Syahdu.
Menurut dia, hubungan industrial yang harmonis juga tidak semata-mata bertujuan mencegah perselisihan. Hubungan industrial harus mampu menciptakan ruang dialog, kepastian, produktivitas pekerja dan keberlanjutan usaha.
Pemerintah, lanjut Aji Syahdu, memiliki kepentingan yang sama dengan dunia usaha, yakni memastikan kegiatan ekonomi terus tumbuh, investasi berkembang, lapangan kerja tersedia dan kesejahteraan masyarakat meningkat.
Aji Syahdu mengatakan Kalimantan Timur saat ini berada dalam momentum perubahan besar seiring pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN).
BACA JUGA: Didukung Kawasan Bandara, Pengusaha Bidik Peluang Investasi Penginapan Ramah Kantong di Balikpapan
Menurutnya, kondisi tersebut memberikan peluang sekaligus tantangan bagi dunia usaha dan ketenagakerjaan di Kaltim.
Pertumbuhan ekonomi dan investasi harus dibarengi dengan penciptaan lapangan kerja berkualitas serta peningkatan kompetensi tenaga kerja lokal.
Karena itu, ia menilai link and match antara kebutuhan dunia usaha dengan kompetensi tenaga kerja perlu terus diperkuat.
“Pendidikan dan pelatihan tenaga kerja harus semakin responsif terhadap kebutuhan industri. Pendidikan dan pelatihan harus semakin dekat dengan dunia usaha,” ujarnya.
BACA JUGA: Dilema Pengusaha: Utang Tambah Beban, Tidak Berutang Tidak Berkembang